Saturday, December 20, 2008

Kekuatan spiritual

Dalam berbagai banyak kunjungan diluar negeri dan beriteraksi dengan para professional asing, saya melihat bahwa etos kerja mereka sungguh luar biasa. Mereka serius, tekun dan disiplin tinggi dengan waktu. Tak ada hari kerja dalam canda. Semua berkerja dalam hirarki yang ketat untuk mencapai sasaran yang tepat. Kehebatan ekonomi China, Jepang ,Korea, Taiwan menjadi telaah para budayawan tentang kehebatan Tao , Budhisme, Kong Hu Chu sebagai kunci keberhasilan masyarakat Asia timur berkibar dikancah international dan disegani. Begitupula kehebatan Ekonomi barat dan AS diyakini oleh para budayawan sebagia akibat budaya plurarisme dan kebebasan berpikir . Hingga membuat bangsa Barat dan AS menjadi bangsa yang creative , innovative disegala bidang hingga menjadi acuan untuk menjadi sukses.

Semua hal yang berbau barat selalu dipuja. Dulu orang mendalami ilmu tentang sukses yang katanya berasal dari Intelligent Question (IQ). Maka beramai ramailah orang tua meminta anaknya ikut test IQ. Bahkan masuk kerjapun diharuskan ikut test IQ. Namun karena belakangan diketahui ternyata IQ tidak cukup untuk menjadikan orang “sukses”karena banyak yang IQ nya tinggi ternyata mati bunuh diri karena gagal.Banyak yang frustasi. Kalaupun berhasil dia berubah menjadi aninal. Cenderung indiviualistis, dam arogan. Kemudian , para ahli memandang bahwa IQ tidak cukup. Maka harus ada tambahan berupa emotion. Maka jadilah rumus sukses seseorang menjadi Emotion Question (EQ). Dari sini diharapkan orang pintar akan sukses apabila dia punya kemampuan mengendalikan emotionnya. Namun , apa yang terjadi? Pengendalian emotion yang tinggi ternyata tidak membuat orang damai. Terlalu banyak stress karena semua dipendam sendiri. Tidak ada pelampiasan. Akibatnya banyak orang sukses kesepian dan menyendiri. Kesuksesanpun tak lagi bernilai.

Para Ahlipun mulai lagi menganalisa bagaimana sebetulnya sukses itu ?. Mengapa kepintaran, pengendalian emosi tidak cukup membuat orang sukses dalam arti sesungguhnya. Mengapa jabatan dan ilmu tinggi tidak membuat orang bijak. Mengapa harta berlimpah membuat orang terus merasa kurang. Mengapa banyak makan obat supplement justru membuat orang semakin banyak penyakit. Mengapa begitu banyak tempat hiburan semakin banyak orang stress. Mengapa semua menjadi paradox ? Dari berbagai observasi tersebutlah akhirnya orang menemukan kesejatiannya yaitu perlunya spiritual dalam rangka mengendalikan emotion. Maka jadilah Emotion Spiritual Question ( ESQ). Dalam kaca mata ahli yang dimaksud spiritual adalah sesuatu yang universal dimana pada intinya manusia itu terlahir membawa nilai spiritual. Membawa manusia kealam spiritual adalah obat untuk menjaga keseimbangan emotion.

Dari ESQ inilah paradigma baru tentang sukses digelar. Konsep memberi dan menerima dengan tulus dikembangkan. Orang barat tergila gila dengan konsep baru ini. Namun tetap saja mereka tidak mengakui keberadaan Agama dan hari akhir sebagai inti dari kekuatan spiritual. Mereka mencoba menganalisa alam spiritual dengan otak sebelah kirinya. Perusahaan berlomba lomba membuat yayasan Amal , Para orang sukses berusaha menjadi pimpinan yayasan amal. Kegiatan yang bermuatan kasih sayang digelar luas. Senyum dibudayakan. Tapi semua itu barulah sebatas symbol. Akal manusia tidak akan mampu menyabarkan konsep spiritual tersebut kecuali berdasarkan ilmu yang sudah diajarkan oleh sang pencipta ( ALLAH ) kepada manusia. Mengapa ? semua hal yang menyangkut spiritual berujung kepada hal gaib , yang hanya mampu dicerna oleh otak sebelah kanan.

Tesis suskes membangun peradaban modern seperti China, Eropa, AS , Jepang oleh banyak budayawan kini terbukti hanyalah ilusi belaka. Menjadi terbalik ketika krisis global terjadi. Lihatlah betapa rentanya komunitas peradaban modern yang dibanggakan itu. Mereka nampak rapuh dan setiap hari berteriak memohon perlindungan dari penguasa untuk diselamatkan dari kemungkinan jatuh bangkrut. Bahkan mereka mengatakan “Tuhan sudah mati “. Ternyata bangsa Indonesia tak pernah gamang dengan situasi apapun. Walau kemiskinan menjerat. Walau harus antri BLT. Walau harus mati karena tak mampu beli obat. Walau harus berhenti sekolah karena sekolah mahal. Kita sebagai komunitas terlatih menerima kezoliman peradaban “modern” dengan kesabaran yang tinggi, tak tertandingi oleh peradaban manapun. Itu karena nilai nilai Islam yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia.

Dari waktu ke waktu kita tak pernah sepi dari krisis. Semua itu karena ulah rezim yang brengsek. Tapi kita tetap kuat sebagai komunitas dan mudah digiring ke bilik pemilu walau janji elite politik tak pernah tunai. Seharusnya pihak Barat , China, Jepang, dan lainnya serta para pemikir orientalis mulai melihat kehebatan peradaban Indonesia ini untuk mendapatkan sukses dalam arti sesungguhnya. Dimana spiritual itu tak pernah menganggap bahwa dunia adalah akhir dari segala galanya. Dunia hanyalah persinggahan sementara untuk menuju kehidupan yang abadi. Dizolimin, kemiskinan, penderitaan bukanlah yang ditakuti tapi adalah bagian proses untuk meningkatkan nilai spiritual itu sendiri. Sementara orang yang mengagungkan dunia justru semakin kehilangan spiritualnya dan hanya hidup dari banyak symbol yang mudah hancur dimakan waktu.

Bahwa hanya ada satu pilihan bagi pihak Eropa, AS, Jepang, China, Jepang dan mereka yang berpikir orientalis untuk keluar dari krisis ,yaitu percayalah kepada Allah dan Rasul. Islam adalah satu satunya solusi untuk menciptakan peradaban yang damai. Dengan demikian maka keseimbangan akan terbentuk dan Komunitas Indonesia , termasuk dibelahan dunia lainnya yang selama ini dipinggirkan dari kerakusan peradaban “modern” akan bangkit untuk saling mengisi dan melengkapi. Namun bagaimana menanamkan keyakinan bahwa krisis sekarang ini terjadi akibat larinya mereka dari konsep Islam…? Hanya Allah yang berhak menanamkan keyakinan ( hidayah ) itu.Lagi lagi kita hanya bisa berserah diri kepada Allah. Itulah puncak spiritual yang memang sulit dipahami oleh akal..

No comments:

Magic Word

  Waktu saya pergi merantau. Setiap bulan pasti surat ibu saya datang. Walau saya tidak kuliah. Pekerjaan tidak tetap. Tetapi tidak pernah i...