Monday, December 08, 2008

Ka'bah...

Saya teringat empat tahun lalu ketika menunaikan Ibadah Haji. Saya terpesona melihat Ka’bah. Karena selama ini ketika sholat , Ka’bah hanya ada dalam imaginasi saya yang memang tak pernah melihat langsung. Saya tahu bahwa kita semua menghadap kearah kiblat bernama Ka’bah. Agungkah Ka’bah ? Inikah yang selama ini arah kiblat kita ? Mengapa semua orang mau berkorban dengan tenaga dan uang , hanya untuk datang ke tanah suci ini ? Itulah pertanyaan dasar saya ketika melihat Ka’bah. Ketika ritual Tawaf , Pertanyaan dibalik keterpesonaan itu, saya mulai merasakan sesuatu pesan yang justru mengecilkan keberadaan Ka’bah itu sendiri. Saya tak lagi melihat Ka’bah sebagai sesuatu keterpesonaan. Betapa tidak ? Ka’bah ada disebelah kiri saya ketika mengelilingi Ka’bah ( Tawaf).. Bukan disebelah kanan.

Kanan adalah lambang kemuliaan. Nabi menganjurkan agar melakukan segala sesuatu haruslah dengan tangan kanan. Melangkah dengan kaki kanan lebih dahulu. Quran sebagai wahyu ALlah dibaca dari kanan kekiri. Susunan DNA kita ternyata bergerak dari kanan kekiri. Berwudhupun harus dimulai dari yang kanan.Singkatnya semua serba kanan. Mengapa kanan ? Tentu anjuran ini berdasar. Karena tak mungkin Rasul menganjurkan tanpa dasar petunjuk dari allah. Kini kita dapat mengetahui ihwal tentang kanan dan kiri itu setelah adanya kemanjuan tekhnologi yang menyelidiki fungsi otak. Efektifitas dan efesiensi gerak tubuh kita sangat dipengaruhi oleh otak, dimana otak sendiri menurut para ahli terbagi dalam dua ; biasa menyebutnya dengan otak kiri dan otak kanan, masing-masing bagian dari otak ini mempunyai fungsi yang berbeda. Bagaimana itu bisa terjadi ?, Tentu adalah karena kekuasaan dari Allah SWT, yang maha dari segala. Sehingga bagaimanapun manusia berusaha mencoba berkreasi menduplikasi otak, dalam bentuk program, robotisasi dsb., tentu tidak bakal bisa menyamai kerja otak kita yang sesungguhnya.

Selain dibagi berdasarkan lobus, oleh para ahli, fungsi otak dibagi menjadi otak besar bagian kiri dan otak besar bagian kanan. Bagian kiri berfungsi sebagai pusat bahasa verbal atau berbuat karena hukum sebab akibat. Otak sebelah kanan, secara struktural sama dengan otak kiri, tetapi ada perbedaan fungsi. Diotak kanan ini pusat bahasa, berhitung, dan percakapan tidak ada. Otak kanan untuk bahasa nonverbal dan kemampuan berimaginasi untuk menghayati sesuatu diluar batas lagika. Akal kanan membuat orang menangis , tertawa, marah dan bahagia. Bahasa yang tidak bisa didengar tapi dapat dirasakan dalam bentuk gerak dan tingkah, isyarat. contohnya bahasa body language, gerakan mata.

Jadi otak kiri lebih kepada hal yang dapat dicerna dengan akal manusia yang serba terbatas. Ungkapan bahasa verbal dan bukan bahasa hati atau bahasa jiwa. Makanya sebab mengapa ritual tawaf menempatkan Ka’bah disebelah kiri. Karena Ka’bah hanya simbol nyata tentang gaip ( keimanan ), yang tak perlu disembah. Sama halnya dengan kecanggihan ilmu pengetahuan, harta dunia, pangkat /jabatan , kecantikan, keperkesaan harus ditempatkan disebelah kiri kita karena begitulah design kita sebagai manusia. Otak kanan adalah sunatullah untuk kita berbuat berdasarkan bahasa jiwa kita bukan bahasa akal kita. Bahasa jiwa itu tak lain adalah cinta dan kasih sayang untuk beribadah kepada Allah. Gunakanlah kemampuan otak kiri untuk berbuat karena kehendak otak kanan. Karena kalau kita lebih menurutkan otak kiri kita maka perbuatan kita jauh dari sikap ikhlas kecuali kepentingan keuntungan semata, serba bersyarat.

Haji adalah puncak ritual keimanan kepada Allah . Hanya bisa dipahami oleh bahasa non verbal yang tak pernah ternoda oleh energi yang berasal dari otak sebelah kiri. Karenanya kenalilah sikap kita , apakah kita berpikir dengan otak sebelah kiri atau sebelah kanan? Untuk mengetahuinya maka pahamilah keberadaan Allah dan sunah rasul serta gunakanlah sholat lima waktu, zakat, puasa, haji dan perbuatan mulia lainnya dengan otak sebelah kanan kita. Focuslah dengan otak kanan. Karena otak kanan kita terhubung dengan semua indra kita termasuk kepada ruh kita. Itulah keagungan Allah yang mendesign kita dengan segala standard operating procedure yang begitu sempurna.

Ibadah Haji adalah puncak ritual dalam berbagai symbol yang hanya dapat dipahami oleh otak sebelah kanan kita bukan sebelah kiri. Karena symbol symbol itu ( termasuk harta dunia dan jabatan ) tak lebih adalah repliksi kelemahan kita dihadapan Allah, yang tidak boleh kita sembah /puja dalam bentuk apapun,

2 comments:

Anonymous said...

Tapi kita lupa bahwa…..

SEBELUM hajji..dia harus puasa…dan

SEBELUM puasa dia harus tunaikan zakat..
zakat untuk jasadnya…
zakat untuk nafsnya..dan
zakat untuk ruhnya…, dan

SEBELUM sholat dia harus WUDU’ (bersih dan suci...jasad, nafs dan ruh).

Sehingga ...
Ada yang bertanya ...
MANA duluan sholat atau zakat..?

Konon.....
Ada yang memaknai TAWAF sebagai keinginan hamba untuk mendekat kepada Allah..(Labbaikallahumma labbaik..)..tapi setelah itu dia tetap harus SA’I berlari kesana-kemari seperti Syaidatina Hajar YANG GELISAH mendengar tangisan anaknya. TAPI yang dikejarnya hanya fatamorgana. Dan selamanya dia akan tetap GELISAH kalau dia tidak WUQUF (diam disuatu tempat) untuk introspeksi ..

Sehingga ada kisah hajji mabrur...

Bahwa yang pergi hajji pada saat itu TIDAK ada yang mabrur KECUALI tukang sol sepatu yang memberikan hartanya untuk MENOLONG ORANG YANG MEMBUTUHKAN...tentunya dengan BARANG YANG BERGUNA..

Anonymous said...

MIGHAT....
Mungkin lebih tepatnya sesuai dengan arah jarum jam dan perputaran bumi pada porosnya..

Arah dari kiri ke kanan tergantung kepada dari MIGAT yang mana kita mulai mengitari KA'BAH...

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...