Tuesday, August 12, 2008

Soros

Masa depan perekonomian dunia terancam oleh system pasar modal kapitalis. Ancamn itu datang dari supper bubble asset dipasar modal. Sekarang saham saham emiten yang bergerak dibidang pertanian dan tambang mencapai harga overvalue dan bahkan mengarah ke supper bubble. Bahkan Soros mengatakan bahwa biang kesalahan ini sudah berlangsung sejak 25 tahun lalu. Ini disebabkan oleh kesalahan philosophy mengambil kebijakan.Terutama mengizinkan Wall Street meningkatkan uang dipasar modal melalui credit derivative. "The idea was that regulators always make mistakes, state interference in the markets just messes things up and that was a false idea .... Regulators are human and bound to make mistakes, but markets are also human and they are also bound to make mistakes. Instead of markets always being right, they're actually always groping at trying to find out what the facts are. But they never get it right."

Yang menarik dari ungkapan itu adalah karena disampaikan oleh seorang Soros, pemain culas dipasar uang. Tentu Soros paham betul segala kelemahan dan kelebihan dari system kapitalisme. Seakan ada feeling guilty terhadap masa lalunya ketika masih bertindak sebagai player memimpin Quantum Hedge Fund. Dia mencoba mengkoreksi kebijakan system kapitalisme dalam bukunya The New Paradigm for Financial Markets. Entah apa sebenarnya dibalik ungkapan tersebut. Apakah mungkin kecintaannya kepada Negaranya yang selalu saja tidak pernah sepi dari gelombang resesi dari satu masa ke masa berikutnya. Karena semua tahu bahwa system capitalism menciptakan pasar bukan hanya sekedar bertemunya antara pembeli dan penjual tapi juga untuk memberikan kesempatan pada siapapun untuk menentukan harga tanpa fundamental base, yang didukung oleh berbagai skema financing dari lembaga keuangan. Yang terjadi adalah permainan harga oleh sekelompok orang, merugikan yang lain dan menguntungkan yang lainnya.

System pasar modal yang ideal tentulah pasar modal yang memungkinkan terciptanya pertumbuhan sector riel melalui penyertaan modal melalui pasar modal untuk terjadinya sprea ownership. Harga yang berbicara atas setiap lembar saham bukanlah ditentukan oleh unsur spekulasi tapi lebih kepada fundamental value emiten. Harus disadari bahwa spekulasi bukanlah kegiatan investasi . Spekulasi tidak memberikan manfaat apapun bagi produktifitas emiten. Sudah pula menjadi kenyataan sejarah bahwa spekulasi adalah penyebab terjadi krisis keuangan sebagai akibat mental rakus dan ingin kaya dengan memperdaya orang lain.

System yang ideal itu ada dalam Islam. Islam mengatur transaksi pasar modal melalui konsep syariah. Transaksi pembelian dan penjualan saham tidak boleh dilakukan secara langsung. Dalam pasar modal konvensional investor dapat membeli atau menjual saham secara langsung dengan menggunakan jasa broker atau pialang. Keadaan ini memungkinkan bagi para spekulan untuk mempermainkan harga. Akibatnya perubahan harga saham ditentukan oleh kekuatan pasar bukan karena nilai intrinsik saham itu sendiri. Hal ini dilarang dalam Islam. Untuk itu dalam proses perdagangan saham, emiten memberikan otoritas kepada agen di lantai bursa, selanjutnya agen tersebut bertugas untuk mempertemukan emiten dengan calon investor tetapi bukan untuk menjual dan membeli saham secara langsung. Kemudian saham tersebut dijual/dibeli karena sahamnya memang tersedia dan berdasarkan prinsip first come - first served.

Pada Modal syariah adalah purity zone dari transaksi yang tidak beretika dan amoral, seperti manipulasi pasar, transaksi yang memanfaatkan orang dalam (insider trading), menjual saham yang belum dimiliki dan membelinya belakangan (short selling). Sementara itu etika di pasar modal syariah, yaitu setiap orang bebas melakukan akad (freedom contract) selama masih sesuai syariah, bersih dari unsur riba (freedom from al-riba), gharar (excessive uncertainty), al-qimar/judi (gambling), al-maysir (unearned income), manipulasi dan kontrol harga (price control and manipulation), darar (detriment) dan tidak merugikan kepentingan publik (unrestricted public interest), juga harga terbentuk secara fair (entitlement to transact at fair price) dan terdapat informasi yang akurat, cukup dan apa adanya (entitlement to equal, adequate, and accurate infromation).

Seharusnya Soros memperdalam Al Quran dan Hadith sebelum menulis The New Paradigm for Financial Markets. Tentu akan lebih konkrit sebagai new paradigma menuju keadilan dan kesejahteraan bagi penduduk planet bumi ini.

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...