Saturday, August 16, 2008

Padamu Negeri...

''Proklamirkan kemerdekaan sekarang juga.'' Demikian Chaerul Saleh berkata lantang kepada Soekarno di tanggal 14 agustus 1945, jam 15.00. Soekarno sadar bahwa ada tuntutan dari kaum muda untuk segera merdeka. Namun sebagai orang tua yang sangat mencintai rakyatnya, Soekarno sadar kata kata proklamasi itu sangat berbahaya dalam posisi Jepang masih mencengkram leher bangsa Indonesia. Juga dibayangkan oleh banjir darah rakyat yang tak berdosa menghadapi bedil sardadu jepang. Bayangan paska kemerdekaan yang menyeramkan inilah membuat Soekarno lebih memilih untuk menhikuti protocol Jepang untuk mencapai Indonesia merdeka,yaitu melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).. Yang tua ragu dan yang muda berhati satu its Now or never.

Ditengah kecemasan akan balantentara Jepang dan hasrat kaum muda untuk merdeka, Wikana mengancam Soekarno ''Kalau Bung Karno tidak mau mengumumkan proklamasi, esok akan terjadi pertumpahan darah di Jakarta.'' Bung Karno pun naik pitam, , ''Ini batang leherku. Potonglah leherku malam ini juga.'' Wikana terkejut melihat kemarahan Bung Karno itu. Ancaman para pemuda rupanya bukan omong kosong. Pada 16 Agustus 1945 pukul 04.00, setelah sahur, mereka menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Di sini sekali lagi para pemuda di bawah pimpinan Sukarni gagal memaksa keduanya untuk memproklamasikan kemerdekaan.

'Perdebatan' kelompok muda dan tua terjadi kembali pada menit-menit menjelang proklamasi. Meski proklamasi diputuskan akan dibacakan pukul 10.00 di kediaman Bung Karno, para pemuda tetap gelisah. Mereka khawatir tentara Jepang akan menggagalkan nya. Mereka mendesak Bung Karno segera membacakannya tanpa menunggu Bung Hatta. ''Saya tidak akan membacakan teks proklamasi kalau Bung Hatta tidak ada. Jika Mas Muwardi tidak mau menunggu, silakan baca sendiri,'' kata Bung Karno dengan lantang. Tak lama kemudian terdengar teriakan, ''Bung Hatta datang... Bung Hatta datang. “ Tepat pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan RI pun
diproklamasikan.

Mungkin ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, para pemuda sadar bahwa inilah takdir dibulan ramadhan berlaku bagi lahirnya ketetapan Allah untuk sebuah negeri baru berdiri bernama Indonesia. Juga awal dari satu proses panjang untuk membuktikan tekad kaum muda itu. Soekarno dan Hatta dan juga para pemimpin ketika itu tidak ada pilihan lain kecuali mendukung langkah “irrasional “ ini menghadapi segala kemungkinan terburuk menuju kemerdekaan sejati. Benarlah, pidato singkat maklumat Prokmasi disambut dengan kalimat “ Merdeka atau mati. ! “ oleh seluruh lapisan masyarakat. Semua mereka bersiap menjemput sahid demi tegaknya Indonesia merdeka.

Tahun tahun berikutnya adalah jutaan mayat terbujur dibumi pertiwi. Negeri inipun tercatat dalam sejarah dunia sebagai pemilik batu nisan “pahlawan “yang mati dan dikubur ditanahnya sendiri, terbanyak didunia. Inipulalah negeri satu satunya didunia yang mempunyai makam Pahlawan disemua Kota. Seakan menjadi saksi abadi tantang harga sebuah kehormatan yang harus dibayar untuk lahirnya generasi tanpa terjajah. Maka kemerdekaan dibangkitkan oleh jiwa yang tulus. Hati yang tenang meregang nyawa lepas dari jasad. Senyuman terpancar karena mati demi sebuah keyakinan. Dapat dikatakan pejuang kemerdekaan bukan hanya pahlawan bangsa tapi lebih dari itu adalah prajurit Tuhan ( Soldier of god ) yang balasannya hanya satu, yaitu sorga.

Enam puluh tiga tahun sejak proklamasi dikumandangkan. Enam puluh tiga tahun yang lalu ketika para pemuda menjemput sahid disemua medan pertempuran. Enampuluh tiga tahun lalu ketika harga diri bangsa dibela dengan nyawa dan harta. Kini , masa lalu dipertanyakan. Makam pahlawan , hanyalah penghias kota sebagai taman dan monumen bisu. Lagu “
pada mu negeri , kami berbakti…“ digantikan oleh “ Padamu uang , kami berbakti… “. Begitupula denga lagu “ Maju tak gentar , membela yang benar “ diganti dengan “Maju tak gentar , membela yang bayar ”. Plesetan lagu ini telah mewarnai setiap seluruh aspek kehidupan social, budaya dan politik. Masa lalu yang heroic tetaplah menjadi kumpulan buku cerita yang jarang disentuh lagi di rak rak perpustakaan. Tak lagi menarik untuk di tampilkan di televise ataupun layer lebar. Kemerdekaan bukan lagi sacral untuk direnungkan karena era pencerahan tentang nilai nilai baru. Nilai yang lebih universal tentang peach , freedom, equality untuk semua dan satu tanpa batas, neoliberal. Sebuah ungkapan menghilangkan nilai nilai sejarah kemerdekaan. Mengaburkan heroisme yang bau amis darah

Maka kemerdekaan juga adalah kesediaan untuk menerima lahirnya kebebasan dari pasar untuk pasar. Tentu akhirnya adalah kemerdekaan bagi pemodal untuk memaksa para buruh berbaris dalam satu komando untuk “Maju tak gentar membela yang bayar”. Juga me nggiring politisi berkata bulat “ maju tak gentar membela yang bayar”. Juga menggiring hakim dan Jaksa “ maju tak gentar membela yang bayar”. Menggiring ribuan anak gadis belia diperkampungan miskin didesa untuk memenuhi tempat pelacuran di kota “ maju tak gentar membela yang bayar”. Semua diukur dengan “ Pada mu uang” dan ketulusan pun tak ada lagi karena semua harus dalam lagu yang sama “ maju tak gentar membela yang bayar. Maka kini kemerdekaan menciptakan “ business class dan economic class. Semuanya terpampang jelas dipemukiman real estate, di Sekolah International dan di Rumah Sakit International di kawasan elite. Disisi lain juga ada kumpulan wajah muram dipemukiman kumuh dibalik gedung pencakar langit kota, dibalik gunung, di pesisir pantai, didesa desa terpencil.

Semakin bertambah usia kemerdekaan bangsa ini , semakin jauh jarak antar kelas social. Yang pasti 63 tahun negeri ini merdeka berhasil menciptakan
23.000 orang mempunyai dana diatas USD 1 juta dan menguasai 90% uang beredar di negeri ini. Kiri kira 23 ribu orang itu komunitasnya hampir sama banyak dengan elite belanda ketika menjajah kita dulu. Enam kali berganti president , hutang kepada asing terus bertambah dan bertambah hingga makna kemedekaan tak perlu lagi dibahas kecuali “ Pada mu Kreditur, kami berjanji , Pada mu Asing kami berbakti…karena "Hutang atau mati !!

1 comment:

Bagus Brahmantyo said...

Manusia mempunyai kecenderungan untuk mengikuti yg terlihat baik, dan tdk pernah berusaha melihat maksud didalamnya. 63 tahun merdeka, rakyat Indonesia terjebak hanya untuk membandingkan presiden 1st sampai yg terakhir. Hanya "cuma" membandingkan saja. Tidak bisa berbuat apa2. Ikut apa yg ada. Karakter sudah terbentuk selama 63thn merdeka. Sudah waktunya ada gerakan yg membuat Rakyat mengerti akan potensi bangsa. Merdeka!!

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...