Monday, March 10, 2008

Peluang dan ancaman

Menurut analis pasar , harga minyak mentah akan mencapai USD 130 per barel. Tentu ini akan berpengaruh terhadap semakin tingginya permintaan akan produk alternative pengganti minyak, seperti jagung, CPO, Cassava, tebu.. Food for oil akan membuat produk pangan semakin mahal. Lebih daripada itu, semakin banyaknya lahan untuk produksi pangan dialihkan kepada jenis tanaman food for oil. Ini sudah dibuktikan dimana 15% lahan kedelai dan gandum di AS dialihkan ke Jagung. Didalam negeri kita sudah merasakan dampak yang sangat memilukan betapa rakyat menjerit dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, seperti minyak goring, kedelai, gandum. Juga pengusaha peternak pun sudah mulai stress karena harga pakan ternak yang berasal dari jagung dan cassava pun ikut melambung. Kebijakan subsidi langsung yang dilakukan pemerintah untuk membantu rakyat kecil mendapatkan produk pangan, tidak menyelesaikan masalah mendasar.

Globalisasi sekarang ,yang dimotori oleh kerakusan system kapitalis telah sampai pada puncak kerakusannya. Kalau dulu , mesin industri digerakan oleh bahan bakar yang berasal dari fosil , yang tidak ada pengaruhnya terhadap kebutuhan dasar hidup orang banyak , tapi kini mesin industri tidak mampu lagi berproduksi dengan bahan bakar dari fosil karena sumbernya terbatas , harga yang semakin mahal dan juga berpengaruh terhadap lingkungan hidup. Pilihan terhadap tanaman pangan sebagai energy alternative adalah keharusan secara hokum ekonomi. Masalahnya adalah apakah lahan bumi mampu menyediakan bahan energy untuk memenuhi kerakusan mesin industri yang terus tumbuh dari tahun ketahun ? Kalaupun mampu bagaimana dengan kebutuhan pangan dunia yang juga terus tumbuh dari tahun ke tahun. Akankah tercipta keseimbangan antara kebutuhan pangan dan energy ?

Masalah energy alternative ini bukan masalah sederhana , khususnya bagi Indonesia yang masih sangat renta dengan ketahanan pangan. Bila hukum ekonomi pasar terbuka yang dijadikan acuan maka kumpulan rakyat miskin akan semakin menderita dengan kenaikan harga pangan karena harus berkompetisi dengan kenaikan harga food for oil. Tapi menghindari tuntutan pasar global pun , tidak mungkin karena negara butuh devisa untuk memenuhi kebutuhan barang modal yang belum bisa diproduksi dalam negeri. Maka kenaikan harga minyak mentah dunia dan semakin besarnya tuntutan kebutuhan energy alternative non fosil ini, haruslah dijadikan momentum untuk menerapkan strategy jitu bagi kemakmuran bangsa.

Lambat namun pasti , Indonesia akan didatangi oleh pemilik modal transnasional untuk melahap semua lahan agraris kita. Apalagi UU Penanaman Modal dan Perpres sudah mengizinkan asing masuk kesektor ini secara bebas.. Terbukti sekarang emiten yang bergerak dibidang perkebunan kalapa sawit , harga sahamnya terus naik dibursa efek Jakarta. Ini adalah peluang tapi juga ancaman terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat.. Karena para investor tersebut datang bukan untuk memenuhi kebutuhan pangan tapi untuk kebutuhan energy alternative mesin industrinya. Sama saja dengan penjajah belanda dulu yang datang dengan modal dan kekuatan membangun perkebunan.

Cara yang mungkin adalah meningkatkan semua pajak eksport produk pertanian yang berhubungan dengan food for oil.Kenaikan pajak itu ,jangan diukur berdasarkan kepatutan international. Jangan. Tapi diukur berdasarkan kebutuhan untuk mendukung program ketahanan pangan nasional dan kemandirian.. Bila mungkin, pemerintah membentuk satu BUMN yang bertugas untuk mengelola dana pajak ini dengan focus kepada program ketahanan pangan nasional dan memberdayakan masyarakat petani untuk tampil mandiri memanfaatkan peluang ini atau bersinergy degan investor asing. Kita harus meniru China dalam memanfaatkan kelebihan potensi SDM murah untuk kepentingan mesin industri asing namun mereka cerdas dengan tidak mengizinkan dana investasi yang sudah masuk dikirim lagi keluar. Mau tidak mau, modal tersebut harus terus berkembang untuk kepentingan nasional dan pada akhirnya negara mendulang pajak tanpa batas untuk digunakan bagi program peningkatan SDM dan kemandirian industri china terhadap asing dan sekaligus memukul asing didalam negeri sendiri.

Bagaimanapun masa depan bukanlah hal yang menakutkan dengan segala ancaman kenaikan harga. Ini adalah peluang ditengah keterpurukan bangsa indonesia yang diasingkan oleh modal Alam selalu menciptakan keseimbangan. Hukum alam bekerja dengan systematis. Tidak mungkin negara kaya akan terus kaya dengan kelebihan system yang mereka bangun. Lambat atau cepat , mereka harus berbagi dengan apa yang selama ini mereka dapat dari keterbatasan negara miskin. Namun, semua tergantung sikap kita memanfaatkan peluang sebagai akibat proses hukum alam tentang keseimbangan tersebut. Yang pasti kebutuhan energy alternative food for oil adalah peluang yang kesekian kalinya bagi Indonesia untuk mencapai kemakmuran. Semoga peluang ini tidak mubazir seperti peluang kejayaan minyak., yang hanya meninggalkan kerusakan lingkungan dan beban hutang yang menggunung

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...