Wednesday, August 29, 2007

" CIntailah kami "



Pada suatu kesempatan berkunjung ke Beijing , saya bertemu dengan rombongan anak sekolah. Mereka mungkin baru kelas satu SD. Dengan diawasi oleh para guru, murid murid itu memberikan brosur kepasa siapa saja yang lewat di perampatan jalan. Saya tidak tahu pasti apa isi brosur tersebut karena berbahasa Mandarin. Teman saya yang juga pejabat di Beijing tersenym ketika membaca brosur itu. ” Ayah, Citailah kami dengan memberikan masa depan yang lebih baik bagi kami.” Saya tersentuh ketika diterjemahkan oleh teman ini. Hanya orang tua yang bebal yang tidak bisa mendengarkan jeritan sekecil , yang memohon cinta tulus untuk tidak korupsi. Karena mereka generasi penerus. Mereka berhak akan masa depan sebagaimana yang kini di rasakan oleh orang tua mereka yang mendapatkan berkah akibat perjuangan dan pengorbanan para kakek mereka. lantas mengapa soal cinta di ingatkan? Menurut mereka, koruptor sebetulnya dia tidak mencintai siapapun, bahkan dia tidak mencintai keluarganya, dia hanya mencintai dirinya sendiri dan membayar kehormatan dari orang lain dengan uang hasil korupsinya. Jahat sekali.

Teman ini mengatakan bahwa program anti korupsi di China sekarang diajarkan diseluruh bangku sekolah sejak dari SD. Mereka diberi informasi sejelas jelasnya akan bahaya korupsi bagi masadepan bangsa. Para anak anak itu diharapkan dapat menjadi agent pemerintah untuk kampanye anti korupsi dan sekaligus menajdi generasi anti korupsi. Upaya ini merupakan propaganda menyeluruh dalam program nasional untuk menekan serendah mungkin tingkat korupsi dalam bentuk apapun. Rumah tangga memang sarana yang ampuh untuk diyakinkan tentang bahaya korupsi. Para anak anak itu disuruh membuat laporan tentang jabatan ayahnya dan apa yang dia miliki. Para guru akan menilai laporan itu dengan membandingkan gaji orang tuanya. Hasil penilaian itulah para murid akan mengawasi orang tuanya.

Pernah teman saya cerita , seorang temannya tidak berani pulang ke rumah karena tidak tahu harus bicara apa kepada istri dan anaknya ketika dia mendapat hadiah jam tangan Rolex dari relasinya. Akhirnya , temannya itu terpaksa meminta surat pernyataan dari relasinya bahwa jam tangan itu diberi tanpa ada maksud apapun. Namun ,setiba dirumah, jam tangan diperlihatkan dan juga surat itu. Istri berkata ” Siapa kamu , saudara bukan, hingga ada orang lain kasih kamu barang mahal tanpa syarat?” Maklum para istripun mendapat pendidikan dari kader Partai komunis tentang bentuk bentuk korupsi,. Tujuannya agar istri dapat mengontrol suaminya;.Kemudian , anaknya berkata ” Ketika ayah menerima pemberian orang lain itu tandanya ayah telah menjual jiwa ayah kepada orang lain. Apalagi jabatan. ” Begitulah berkat didikan sekolah. Pernah juga ada cerita seorang istri polisi hutan, beralan kaki lebih dari 30 KM ke kota hanya untuk menemui agent anti korupsi untuk melaporkan suaminya terima suap dari penjarah hutan. Sang istri melaporkan karena tidak mau bila akhirnya suaminya harus di hukum mati karena perbuatannya. Dengan melaporkan maka tindakan korupsi dapat di hentikan dan suaminya terhindar dari hukuman mati.

Mengapa kampanye perlu untuk membrantas korupsi, Karena korupsi berkaitan dengan budaya dan keseharian. Lebih daripada itu ada attitude yang buruk. Disamping aturan hukum yang ketat ( Di China korupsi diatas Rp. 1 miliar adalah hukuman mati) ,juga kampanye melalui berbagai saluran komunikasi sangat penting agar panetrasi target audience tercapai. Tentu seiring dengan itu kesejahteraan para karyawan semakin ditingkatkan sebagai ujud penghargaan atas pengabdian kepada bangsa dan negara. Dari system seperti inilah China bangkit dari masa gelap kemasa yang terang benderang. Walau masih banyak kekurangan namun negara ini berhasil menjelmakan impian pendiri negaranya tentang ”Lompatan China jauh kedepan”. Ya, Tanpa revolusi kebudayaan, China tidak akan bisa semaju sekarang. Bayangan korban lebih dari 25 juta kaum berjuis di mati di kamp kerja paksa memang menakutkan. Namun momentum revolusi kebudayaan itu terus dijaga oleh pemimpin China berikutnya , namun menerapkannya lebih modern. Semua pejabat di paksa untuk keras dengan dirinya sendiri agar bisa berbuat lebih bagi bangsa dan negara, atau tidaknya dia bisa pensiun dengan nama baik yang selalu di kenang oleh teman dan keluargannya. 

Dari Beijing, lamunan saya sampai kenegri yang saya cintai , yang tak pernah tuntas mencari bentuk yang tepat untuk memberantas korupsi., Pengawasan diperketat, lembaga baru dibentuk, hasilnya yang diawasi dan mengawasi juga korupsi.Keharuan saya semakin menjadi jadi ketika Stiker tentang ” cintailah kami dengan tidak korupsi’ dengan photo anak SD yang memegang bendera China, dipajang dikantor kantor pemerintah. Tujuannya adalah agar orang tua selalu sadar tentang ”Pulanglah ayah kerumah untuk membawa cinta. Bukan uang berlimpah dari hasil korupsi...

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...