Sunday, February 11, 2024

Bukan uang tujuan tapi prosesnya.




Saya termasuk yang tidak pernah percaya dengan mistik. Itu didikan keluarga, yang memang melarang percaya dengan mistik.  Kita percaya hal gaib tetapi mistik tidak. Tahun 93 saya mondok di Ponpes di Banten khusus mengikuti program puasa mutih. Ceritanya begini. Awalnya saya tidak tahu tempat ponpes itu. Saya tahunya dari mimpi. Awalnya saya tidak percaya. Tetapi karena pesan itu dalam sebulan datang 4 kali. Akhirnya saya datang juga. 


Pesan dalam mimpi itu menyebut arah ke ponpes. Saya arahkan supir seperti arahan dalam mimpi. Dan terus jalan. Sampai juga ketitik lokasi yang ditentukan dalam mimpi. Itu bukan ponpes modern. Sangat sederhana. Ada beberapa tempat belajar yang terbuat dari anyaman bambu. 4 bangunan diapit oleh Masjid di tengah tengahnya. Itupun bukan kelas masjid, tepatnya hanya surau seperti  di kampung saya di Minang. 


Belum sempat saya mengenalkan diri, orang tua yang pengelola ponpes itu sudah menyapa saya lebih dulu dalam bahasa minang. Tetapi mulutnya tidak bergerak. Artinya dia bicara lewat telepati, dengan bahasa ibu saya. “ Saya dapat pesan dari kakek kamu untuk membawa kamu ke gerbang dimensi 7. Di alam ini ada 13 dimensi. Setiap dimensti ada gerbang. Kamu berkesempatan masuk ke gerbang 7” Katanya lewat telepati. 


Saya tatap lama. Percaya tidak percaya. “ Apakah saya bisa minta air minum” Kata saya dalam hati. Kalau benar dia beri saya air minum, itu artinya saya benar berbicara dengan dia. Benarlah. Dia berdiri mengambil air minum dari dapur. Serahkan ke saya.”. Kamu capek. Istirahatlah” katanya dengan telepati dan berlalu mengajak saya ke  kamar. “ Ini tempat tidur kamu selama mutih” Katanya.


Seminggu ikut program mutih, satu pagi sehabis sholat subuh, dia ajak saya ke pekarangan belakang masjid. Seketika saya melihat istana megah berlapis emas.  Dia tuntun saya masuk. Di dalam istana itu emas berbatang batang tersusun rapi di rak. Tumpukan dollar dan beragam mata uang bersusun di lemari kristal. Gudangnya luas sekali. Semua emas dan uang. Saya berkali kali pukul kepala saya untuk pastikan saya tidak bermimpi. Nyata dan memang tidak mimpi. Sekejab kemudian saya sudah ada di dalam masjid.


40 hari saya lewati program mutih itu, puasa hanya makan sedikit dan minum pada saat buka puasa. Program mutih saya selesai. Sebelum pulang dia berkata dalam bahasa telepati “ Saya tahu kamu sedang bangkrut. Mari ikut saya. “ Katanya seraya menarik lengan saya masuk ke istana megah. Masuk ke gudang ” Ambil lah uang atau emas sesuka kamu. Pakailah untuk usaha kamu” Katanya. 


Saya lama perhatikan tumpukan emas dan uang itu. Wajah ibu saya membayang. Seketika saya putar badan dan keluar ruangan. Saya tidak mau harta itu. Lambat laun dari jauh keliatan ibu saya datang dalam keadaan masih bermukena. Ibu saya peluk saya. Dan seketika saya kembali ke dunia nyata. Istana itu lenyap dan saya masih duduk bersila di masjid. Pak Tua itu tersenyum dan peluk saya juga.  “ kamu lulus! Bisiknya.


Selanjutnya saya tidak lagi focus kepada uang tetapi proses..sunatullah “ Perbanyak silahturahmi, banyak membaca, mendengar dan melihat, itu sumber harta yang tak lekang oleh waktu.  Nah hikmahnya bukan uang sebagai tujuan,  tetapi proses mendapatkan itu membuat kita bijak dan tahu arti bersukur dan mencintai. Orang yang tidak menghargai proses pasti dia tidak akan tahu arti bersukur dan tidak paham arti etika dan moral.

No comments:

Politik pangan paska Pemilu.

  Ketika melihat orang antri beli beras dengan jatah 5 kg. Entah mengapa saya menangis. Saya membayangkan istri saya yang sedang dalam antri...