Thursday, January 04, 2024

Besyukur dan mencintai.

 



Saya hanya tamatan SMA. Sejak remaja saya sudah gemar membaca. Mentor saya membaca adalah ibu saya sendiri. Saya termasuk anak yang lemah otak. Berkat kesabaran ibu saya, saya bisa mengerti pentingnya membaca dan yang lebih penting lagi, ibu saya bisa memotivasi saya untuk gemar membaca. Bahwa saya harus punya pengetahuan dasar atas apapun. Belajar adalah proses seumur hidup. “ Jangan ragu bertanya kalau tak paham. Hormati orang berilmu dan kaya, Dari dia kamu tahu jalan ke mata air. Sayangi orang miskin, dari dia kamu tahu arti mencintai.”


Pertama kerja saya sebagai salesman. Saya di training dasar dasar pengetahuan menjual. Diajarkan soal prilaku konsumen dan potensi market. Saya juga diajarkan tentang product knowledge. Akibatnya mendorong saya membaca buku apa saja yang berkaitan tentang merketing dan produck knowledge.


Setahun sebagai salesman, saya mulai berwirausaha. Saat memulai usaha, saya kursus Management Usaha Baru di LPPM. Dari kursus selama 3 bulan itu, membuat saya paham pentingnya management, akuntansi dan metode riset usaha. Karena itu memotivasi saya membaca buku yang berkaitan dengan management, akuntansi dan metode riset. Setiap bulan sedikitnya 3 buku tamat saya baca. Kalau ada seminar berkaitan dengan hal tersebut, saya pasti hadiri. Berapapun saya bayar.


Setiap membuka usaha baru, saya pasti pelajari dengan detil tentang product knowledge. Waktu muda, saya pernah punya usaha trading hasil bumi. Saya pelajari setiap produk pertanian itu. Saya ketahui lama tanam, resiko tanam dan dilahan apa yang cocok di tanam. Pernah punya pabrik karton. Saya pelajari dari bahan apa karton dibuat, bagaimana prosesnya dair bahan baku sampai jadi karton, siapa produsen bahan bakunya. Kemana jualnya, dan mengapa orang mau beli. Begitu seterusnya. Apapun bisnis yang saya jalankan, sambil jalan saya terus belajar.


Sampai usia 40 tahun. Saya mengalami kegagalan bisnis 4 kali. Walau tidak pernah membuat saya sukses dalam arti materi, namun saya sudah berada dijalur yang benar. Apa itu? Bertambah usia, saya kaya pengalaman lewat proses learning by doing. Yang lebih bersukur, sejak usia 30 tahun saya sudah menjadikan membaca itu sebagai kebutuhan. Saya tidak lagi focus belajar dengan dunia yang saya hadapi sehari hari, tetapi juga diluar dunia saya. Buku apapun saya baca. Menjadi kepuasan batin saat menyelesaikan buku itu. Tanpa disadari usia 40 saya sudah kaya literasi walau miskin harta.


Masuk usia 40 saya tahu mengapa saya harus hijrah. Itu karena literasi. Di Hong Kong saya hanya perlu waktu 5 tahun untuk established. 5 tahun pendapatan itu mengalahkan 1000 kali pendapatan saya selama 20 tahun saya berbisnis di Indonesia. Dan selanjutnya karena literasi juga saya tahu pentingnya membangun organisasi, Saya tidak ragu berinvestasi pada R&D, BDG, HRD. Usaha berkembang karena 30% laba saya investasikan di R&D, BDG, dan HRD. Dan selanjutnya by design dan system berlalunya wkatu usaha berkembang dengan sendirinya. Usia 50 saya bisa pensiun dari operasional dan menjadi mentor terhadap SIDC dan Yuan.


Kini saya menua, walau tidak konglomerat tapi berkat literasi saya tahu arti kebahagiaan. Bukan pada harta dan kekuasaan, tetapi kebebasan waktu dan financial. Itulah kekayaan sesungguhnya, membuat kita tahu bersyukur dan tahu arti mencintai…


No comments:

Politik pangan paska Pemilu.

  Ketika melihat orang antri beli beras dengan jatah 5 kg. Entah mengapa saya menangis. Saya membayangkan istri saya yang sedang dalam antri...