Monday, October 09, 2023

Sikap personal pemilih..

 





Pernah saya naik ojol. Di jalan dia cerita bahwa dia korban dari bisnis investasi bodong, yaitu pada perusahaan asuransi dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Tadinya dia dapat tawaran dari temannya. Dijanjikan akan untung besar. Usianya tidak muda lagi. Malang sekal nasibnya. Padahal uang itu untuk persiapan masa tuanya. “ Melihat proses kasusnya di pengadilan, saya kecewa dengan rezim Jokowi." Katanya dengan raut sedih.


Deretan investasi bermasalah, baik yang berlisensi maupun yang tidak. Diantaranya adalah PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha ada 29000 nasabah. KSP Indosurya ada 23.000 nasabah. OSO Sekuritas, 7.500 nasabah. Minna Padi mencapai 4.000 orang nasabah. Jiwasraya ada 7 juta orang dan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1913 ada 12 juta orang. Total korban ada sebanyak 19.063.500. Masih ada lagi yang lain. Penyelesaian hukum atas kasus itu baik lewat pengadilan pidana mapun perdata, yang jadi korban adalah nasabah.


Secara hukum pemerintah tidak salah. Apalagi Jokowi. Karena Jokowi mana mikir soal investasi bodong itu. Dia sibuk. Toh semua sudah ada aturannya. Tapi secara politik itu jelas ada. Kebencian kepada rezim, akan diaminin oleh mereka semua. Wajar sikap ini. Karena  proses hukum membuat mereka kecewa. 5 dari orang yang saya temui korban investasi, 5 nya marah kepada pemerintahan Jokowi. Andaikan jumlah korban dari semua investasi itu sebanyak 19.063.500. Turunannya bisa 4 kali lipat atau 76 juta. Itulah yang ikut menderita dan merasakan empati.


Saya kehilangan reputasi untuk meyakinkan bahwa itu bukan salah pemerintah. Empati saya tidak akan tega mengatakan bahwa itu salah mereka. Karena pembiaran terjadi tanpa ada pengawasan dari aparat pemerintah. Setelah meluas dan jatuh korban , barulah OJK dan polisi bergerak. Dan itupun penegakan hukum gagal berpihak kepada korban. Dana yang dikelola menjadi tidak jelas dan blackhole. Hanya menyisakan derita yang tidak bertepi.


Saya juga bertemu dengan Driver Ojol yang tadinya pedagang di pasar Tanah abang. Usahanya bangkrut. Karena dagangan sepi. Biasanya pedagang dari daerah belanja tapi kini sudah jarang. Rasanya kecewanya dengan Jokowi sangat besar. Padahal dia dulu mengidolakan Jokowi. Saya juga kehilangan reputasi untuk meyakinkan bahwa itu bukan salah Jokowi. Tetapi karena daya beli turun dan pengaruh impor. Ada jutaan pedagang yang mungkin senasip dengan driver ojol itu. Itu belum termasuk anak dan istrinya. Belum lagi para buruh yang kecewa karena UU Ciptakerja. Sudah banyak yang korban PHK tanpa perlindungan cukup.


Mereka yang korban itu tidak lagi bersuara. Tidak lagi gunakan sosmed untuk membaca dan mendengar prestasi pemerintah yang katanya approval rating mencapai 90%. Kalaulah relawan capres dan Partai dari koalisi pemerintah, lebih focus peduli kepada mereka tentu akan membantu memperbaiki citra mereka dihadapan korban.


“ Tapi ini malah yang ada sikap menyalahkan kami sebagai korban dan kata kata yang menyakitkan seakan kami ini bodoh. Ya memang kami bodoh terlalu percaya dengan pemimpin yang kami pilih, sehingga percaya begitu saja dengan perusahaan yang dapat izin dari penguasa yang menjual janji tapi hampa.” kata driver Ojol yang korban investasi pada perusahaan asuransi.

Semakin pemerintah menepuk dada semakin memprovokasi mereka jadi lonewolf. Dan ini berpotensi menjadi silent power menjatuhkan partai penguasa dan capres yang diusung oleh koalisi pemerintah pada Pemilu 2024

No comments:

Persepsi pasar.

  Ketika Lehman Brothers bangkrut pada 15 September 2008, reaksi   dunia seperti mau kiamat. Mereka mengatakan ini akhir dari kapitalisme pa...