Sunday, August 01, 2021

Ujian keimanan

 




Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau buatan. Politisi tapi bukan politisi. Sarjana tapi bukan sarjana. Pemimpin tapi bukan pemimpin. Pengusaha tapi bukan pengusaha.  Yang ada hanya tampilan saja. Rasa saja. Orang hebat itu tidak bisa direkayasa. Dia harus melewati proses untuk jadi orang hebat.  Karakter sabar, tidak bisa hanya dengan retorika sabar lantas pantas disebut orang sabar. Haru diuji dengan masalah, dibully. dilecehkan. Kalau semua bisa dilewati dengan senyum. Pantaslah disebut orang sabar. 


Anda boleh saja berkata “saya orang jujur. Saya pemimpin partai berbasis agama atau religius. “ Tetapi anda harus buktikan ketika diberi kesempatan memegang amanah. Kalau terbukti ketua PPP, PKS, PD akhirnya masuk bui, itu artinya apa dikatakan tidak sesuai dengan fakta. Anda gagal melewati ujian memegang amanah. Itu sebabnya dalam agama islam disebutkan, tidak beriman seseorang sebelum diuji. Jadi walau mulut berbusah berzikir, jidat hitam sholat, tetapi tidak tahan ketika melihat wanita cantik atau tidak kuat mendapatkan amanah, maka anda bisa disebut tidak beriman atau omong doang.


“ Mengapa kamu dekat dengan wanita yang bukan muhrim, bahkan berani masuk tempat hiburan malam. Berteman dengan orang kafir. Mengejar harta. Apa kamu tidak takut kepada Allah” Kata teman.


“ Saya mencintai Allah, dan saya tahu bahwa Allah juga mencintai saya. Mengapa harus takut. Hidup ini adalah ladang ujian sepanjang usia. Kalau saya selalu menghidari ujian kawatir iman rusak. Takut melihat wanita cantik tanpa hijab, takut berteman sama orang kafir, takut berharta condong kedunia. Itu sama saja beragama tapi tidak percaya kepada hukum ketetapan Tuhan. Tepung bisa dimakan setelah digiling, dilumat dan kemudian dibakar. Berlian harus diasah agar berharga. Iman bercahaya setelah diuji. 


“ Bagaimana kalau akhirnya kamu kalah terhadap ujian itu? Kan jadi dosa besar.”


“ Loh saya ini manusia. Bukan malaikat. Tempatnya salah dan khilaf. Tidak mungkin saya menutup diri dari ujian. Saya membuka diri tanpa rasa takut keimanan  goyah, itu artinya saya sedang melatih keimanan saya. Kalau toh akhirnya kalah, ya Tuhan itu Maha Pengampun. Bangkit lagi dan tetap membuka diri untuk terus hadapi cobaan. Biasa saja. Namanya manusia. Artinya ujian itu bukan dihindari tetapi dihadapi dengan rendah hati”


“Aneh..?


“ Ya. Hanya dengan itu saya bisa tumbuh dan berubah menjadi lebih baik karena waktu, dan bisa kembali kepada Tuhan dalam sebaik baiknya kesudahan. Itu hukum ketetapan Tuhan, sunatullah. Kalau kita beriman kepada Allah, kita juga harus beriman kepada  hukum ketetapan Allah. “


No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...