Saturday, April 11, 2020

Ancaman itu bukan corona tetapi oposisi.


Uni Eropa memang sebuah gagasan yang usang. Kata teman saya kemarin ketika kami diskusi via WA. Mereka membuat aliansi karena alasan ekonomi, bukan karena alasan solidaritas dan kebangsaan. Sangat transaksional sekali. Makanya jangan kaget bila Italia menghamba bantuan alat kesehatan, tidak ada semangat solidaritas negara negara Eropa untuk membantu. Ironis, Uni Eropa, yang diwakili Jerman dan Perancis, enggan memberikan bantuan berarti kepada Italia, bahkan untuk beli alat medis saja dengan tetangganya, itupun dibatasi. Saat krisis, persatuan karena ekonomi itu menunjukan jatidirinya, bahwa persatuan Eropa hanya utopia. 

Justru yang datang membantu adalah China. Walau China juga suffering akibat wabah COVID-19 namun Cina setuju untuk mengirimkan 1.000 ventilator, 2 juta masker, 20.000 pakaian pelindung untuk petugas medis, dan 50.000 swab corona. Ini soal kemanusiaan. Orang Italia kini baru menyadari betapa tetangga jauh yang datang menolong. Italia dan juga Yunani, Portugal, Spanyol dirudung krisis Ekonomi, yang pada waktu bersamaan kena waba COVID-19, mereka memohon kepada saudaranya yang kaya seperti Jerman, Finlandia, dan Austria, tetapi disikapi dengan sinis. “ Mengapa kami harus berbagi menanggung hutang kalian? Demikian gerutu mereka. Padahal Italia, Spanyol , Portugal itu termasuk saudara tua dan kekuatan ekonomi di Eropa tadinya.

Semua negara sekarang sedang dilanda crisis gabungan, yaitu Pandemi COVID-19 dan Ekonomi. Itu datang saling tindih dan menggelinding jadi bola salju. Ketika Wabah COVID-19 melanda China, OECD meramalkan bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 akan turun menjadi 2,4%, dibandingkan dengan yang sudah lemah 2,9% pada tahun 2019. Kemudian diperkirakan akan naik menjadi 3,3% pada tahun 2021. Namun ketika Wabah COVID-19 menyebar keluar dari China, OECD kembali mengkoreksi ramalannya dengan memangkas pertumbuhan global  hingga ke 1,5%. 

Pada awal tahun 1930-an, suasana di Jerman diliputi kesuraman. Depresi ekonomi global memukul ekonomi jerman, dan jutaan orang kehilangan pekerjaan. TampiL-lah Hitler. Kehadiran Hitler adalah buah dari HOAX, yang berhasil menarik barisan kaum buruh dan sosialis dalam front nasional menumbangkan rezim yang ada. Hasilnya bukan hanya Jerman yang porak poranda tetapi dunia juga porak ponda akibat ulah Hitler, yang menyeret negara negara di dunia terlibat dalam perang dunia kedua dengan korban puluhan juta orang. Korban terbesar di dunia sepanjang sejarah adalah wabah perang.

Saat sekarang, tidak ada satupun negara yang bebas dari krisis.  Kalau ada pengamat atau ekonom mengatakan hanya indonesia yang krisis, itu jelas Hoax. Hanya saja daya tahan masing masing negara berbeda dalam menghadapi krisisis. Yang masih mencatat pertumbuhan positif adalah China, India dan Indonesia. Yang lainnya jatuh semua, mendekati nol bahkan merah alias negatif. Apa artinya? ancaman kemiskinan akibat menyusutnya PDB dan melonjaknya PHK tidak bisa dihindari. Pada titik ini yang menentukan selamat bukan lagi ekonomi tetapi karakter bangsa dan kepemimpinan yang kuat.

Dalam situasi depresi, dalam situasi rakyat gamang dengan masa depannya, wabah baru yang lebih menakutkan adalah lahirnya monster dari politisi populis. Yang menciptakan hoax dan mimpi disiang hari bolong kepada rakyat yang malas berpikir. Saya suka dengan cara China yang langsung kandangi pengusaha dan rakyat yang mengeluh di tengah waba corona. Arab yang memborgol semua elite kerajaan yang oposisi. Udah 52 orang ditangkap polisi karena Hoax Corona. Itu bagus. Mengapa? Kalau Pemerintah tidak tegas terhadap sikap oposisi di tengah krisis gabungan, ancaman bukan  corona tetapi lahirnya politisi populis di tengah krisis. Lebih buruk dari Hitler. Rasis dan psikopat !

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...