Thursday, August 22, 2019

Memahami perbedaan

Saya sering diledek oleh teman di China ketika sedang berpuasa. “ Bro, saya barusan dapat telp dari Tuhan, katanya kamu boleh makan sekarang? Ketika saya usai sholat, mereka berkata, “Tadi saya dapat telp dari Tuhan, bahwa dia sedang piknik. Engga ada waktu perhatikan kamu yang menyembahnya.”. Ada juga yang bertanya, kamu itu seperti kaum pagan. Menyembah Batu Hitam ( Ka’bah ). Yang disembah itu Tuhan. Tuhan itu ada di hati kita.
Ketika saya menolak makan Babi, teman saya yang non islam, bilang. “ Babi itu enak dan itu Tuhan yang ciptakan. Mengapa kamu tolak. Engga bisa terimakasih sama Tuhan, ya”. Dengan sesama islam kadang saya juga diledek. Kata orang suni saya itu syiah. Kata orang syiah saya suni. Hanya karena mereka meliat cara saya beragama. Semua kata kata itu tidak pernah membuat saya tersinggung. Saya hadapi dengan senyum saja. Mengapa ? karena dia bicara soal praktek keagamaan. Yang jelas begitu persepsinya. Wajar aja. Dia engga paham soal agama saya.
Namun yang mendamaikan saya adalah secara teologi hakikat agama itu sama, yaitu soal keyakinan kepada Tuhan. Adanya kesannya perbedaan karena kurangnya pengetahuan. Orang beragama dalam tataran awam, memang masih berfokus dengan ritual ( praktek/syariat). Baginya praktek itu segala galanya. Berbeda , berarti salah dan dia berhak menyalahkan, bahkan memperoloknya. Itu bukan hanya terjadi pada agama yang berbeda. Dalam satu agama saja punya keyakinan berbeda dalam hal ritual. Makanya dalam islam ada berbagai golongan berdasarkan mahzab. Begitu juga dengan kristen dan lainnya.
Tapi bagi orang yang sudah sedikit maju pemikirannya dan memahami prinsip teologi, dia tidak lagi melihat ritual sebagai pembeda dengan agama atau mahzab lain. Tidak menganggap serius soal praktek. Dia melihat dari sisi teologi. Dengan memahami teologi maka sikap toleran terbentuk dengan sendirinya sebagai akhlak atau budi dari sebuah agama. itu mendamaikan. Itulah tujuan agama itu ada.
Itu sebabnya, mengapa sebagian ormas keagamaan Kristen justru menganggap angin lalu kata kata UAS itu? Karena UAS tidak bicara dalam konsep teologi. Dia bicara tentang ritual keagamaan dia sendiri. Di mana mana Kecap KS nomor 1. Kalau soal ritual dipertentangkan dan baper , jelas tidak bijak. Anggap saja itu sebagai metodelogi dia mendidik umatnya. Inilah prinsip memahami teologi. Kendaraan boleh beda, tetapi tujuan sama. Engga usah saling baper. Capek kan kalau soal ritual dipermasalahkan terus.
Mengapa perbedaan itu dalam islam dikatakan rahmat. Karena bukan perbedaanya yang menjadi rahmat tapi sikap orang yang bisa menerima perbedaan itulah yang menjadi sumber rahmat. Itulah pentingnya pemahaman teologi. Nah kalau islam itu adalah rahmat bagi semesta. Maka islam harus digaris depan dalam hal toleransi. Kalau masih anggap islam itu rahmatan lilalamin, maka berhentilah mengajarkan hal yang intolerance, Kita hebat bukan karena kata kita tetapi karena orang lain mengatakan kita baik. Dan itulah akhlak budi pekerti yang mendamaikan.
Namun bagaimanapun Pemerintah menyadari bahwa masalah perbedaan dalam hal beragama ini adalah masalah sensitip. Apalagi kalau perbedaan itu ditunggangi oleh kepentingan politik. Itu akan berdampak destruktif dalam membangun peradaban. Makanya, negara harus hadir di sini. Caranya? ya dengan mengeluarkan aturan dan UU penodaan agama dan SARA, Ormas. UU ini dibuat dengan membatasi mana ranah publik dan mana ranah privat. Selagi itu bersifat privat maka itu dibenarkan namun bila perbedaan itu diangkat ke publik , maka yang tadinya dibenarkan menjadi kriminal. Ada sangsi hukumnya. Itu sebabnya HTI itu dilarang dibanyak negara. Karena dia mengangkat hal yang sensitip soal keyakinan beragama di depan publik.

No comments:

Persahabatan …?

  Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada pr...