Sunday, February 17, 2019

Empati ?

Prabowo terlahir dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Seomitro adalah Ekonom dan juga politisi sejak era Soekarno. Kakeknya adalah banker, pendiri Bank BNI. Dia pernah hidup di luar negeri karena ayahnya menjadi pelarian politik di Era Soekarno. Entah gimana keluarganya bisa hidup mewah. Mungkin karena ayahnnya musuh politik Soekarno dan Soekarno adalah musuh Amerika. Mungkin kemewahan itu karena dia dianggap sebagai “ asset “ oleh Amerika Serikat. Usia remaja dia pacaran dengan Putri Soeharto penguasa Orde Baru, dan ayahnya jadi menteri di Era Soeharto. Kemudian dia menikah dengan putri Soeharto. Anda bisa bayangkan kemewahan hidupnya. Sedari kecil dia tidak tahu arti sebuah kemiskinan. Karena dia tidak pernah merasakannya.

Pernah satu waktu saya ke datangan anak muda. Ini benar benar anak muda. Usianya tidak lebih 30 tahun. Awalnya ketika teman saya mengatur ketemu dengan anak muda ini saya keberatan. Karena saya nilai dia tidak qualified untuk kerjasama. Ya karena faktor usia. Namun teman saya menegaskan bahwa anak muda ini cucu dari konglomerat Indonesia. Atas dasar itu saya coba untuk menjajaki dengan menyanggupi meeting dengannya di Hong Kong. Teman saya mengatur pertemuan di cafe di hotel bintang 5. Namun yang membuat saya terkejut dan merasa aneh berhadapan dengan anak muda ini adalah dia datang dalam pertemuan itu dengan celana pendek warna putih dan tshirt warna kuning. Benar benar konyol.Dia tidak menghargai saya. Padahal dia undang saya dalam business meeting ini.

Selama pertemuan itu saya tidak bicara banyak.Anak muda itu hanya bicara singkat apa yang telah dia lakukan dalam bisnis.Omzetnya setahun ratusan miliar. Punya storage di beberapa pelabuhan ikan di Indonesia timur dan tengah. Dia menawarkan kerjasama dengan skema pembiayaan yang resikonya di jamin seratus persen oleh dia. Saya tanya mengapa dia tidak ajukan ke bank.Bukankah keluarganya punya bank. Dengan tersenyum dia katakan bahwa dia tidak ingin keluarganya banyak terlibat. Pembicaraan itu singkat saja. Selanjutnya kami habiskan santai sambil dengar live music.

Ketika itu sedang di lantunkan lagu " in the Gheto ". Lagunya sangat menyentuh namun anak itu tidak nampak terpengaruh sama sekali. Ini mengundang rasa ingin tahu saya tentang sikap hidupnya. Apakah dia punya empati. Dengan santai dia katakan dia tidak paham apa itu empati. Mengapa ? karena dia tidak pernah merasaan kekurangan selama ini. Apakah dia bahagia dengan hidupnya ?Dengan santai dia jawab dia tidak tahu apa itu bahagia. Karena dia merasa semua ada ketika dia mau.

Lantas apa makna hidup bagi dia. Dia hanya tersenyum. Baginya hidup hanya seperti ini. Menikmati hoby yang mengundang adrenalin-nya. Kadang beresiko ,kadang membuang waktu percuma. Namun dia sendiri tidak tahu mengapa dia ketagihan dengan hidup seperti itu. Padahal itu tidak juga membuat dia bahagia. Saya tersenyum memandang sejurus kearahnya. DI hadapan saya ada manusia yang sangat menyedihkan. Baginya hidup tidak ada warna warni.Tidak ada graphik turun naik. Semua datar saja. Dia terperangkap dalam hidup yang tidak dia pahami. Menyedihkan..

Mengingat anak muda itu saya kembali kepada diri saya sendiri. Mengapa ? Karena sampai sekarang saya tidak tahu mengapa orang mengerang sakit gigi. Saya malah bingung mengapa gigi bisa sakit. Karena seumur hidup saya tidak pernah sakit gigi. Jadi empati saya terhadap orang sakit gigi memang tidak ada..Saya terlahir dari keluarga miskin makanya saya tahu arti berbagi dan paham betapa menyedihkan bagi simiskin bila tidak ada jalan minta tolong. Walau bantuan yang saya beri tidak berarti namun saya menemukan kebahagian dalam memberi dan bila susah datang sayapun terlatih sabar.

Jadi gimanapun retorika PS tentang membela orang miskin, itu hanya retorika yang bahannya dia dapat dari baca buku dan apa kata orang terdekat dia. Sementara dia sendiri tidak tahu makna kemiskinan seperti apa yang maknai oleh Jokowi yang pernah tinggal di pinggir kali, pernah merasakan rumah di gusur, hidup prihatin selama kuliah karena orang tua miskin. Hidup prihatin selama merintis usaha dari nol. Makanya Jokowi sangat tangguh menghadapi tantangan hidup. Beda dengan PS , yang mudah ngambek dan tempratemental kalau kemauannya tidak tercapai. Bahkan kabur keluar negeri karena kesel. Orang bijak karena dia punya empati. Orang punya empati bukan karena dia belajar dari buku tetapi karena dia mengalami kegetiran hidup untuk memahami arti sebuah empati.

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...