Sunday, May 27, 2018

Bertahan hidup

Di musim panas, saya berhenti sejenak ketika ada seorang wanita mengayuh kereta berisi barang rongsokan ditengah hiruk pikuk pasar. Udara panas menyengat keras. Wanita itu tetap sabar. Wajahnya nampak keras seakan tak menyisakan ragu dan takut untuk bertahan hidup ditengah lautan manusia lebih dari 1 miliar di China. Teman saya menegur saya “ apakah kamu baik baik saja. “ saya mengangguk. Tetapi teman saya memperhatikan suatu tanya tentang apa yang baru saya lihat. Dia menarik saya masuk ke dalam cafe untuk lepas dari terik matahari. Setelah memesan kopi se gelas untuk dirinya, dia kembali duduk bersama saya.

Bagi orang china, kata teman saya. Bertahan hidup adalah fitrah alam. Ini hukum ketetapan Tuhan. Hidup terasa hambar dan tidak ada arti bila tanpa tantangan. Bertahan hidup sangat tertanam dalam diri setiap makhluk hidup. Alam sendiri berjuang setiap hari demi kelangsungan hidupnya. Bertahan hidup menunjukan akar yang baik bagi kelangsungan perkembagan jiwa positip. Setiap upaya bertahan hidup bagaikan biji kecil dari pohon tumbuh terus lebih besar dan lebih tinggi ke arah cahaya. Wanita itu berjuang dan terus melangkah tanpa henti. Kadang menunjukan pemandangan luar biasa. Itu semua buah dari ribuan langkah untuk bertahan hidup.

Kehidupan memaksa orang harus memilih. Apapun pilihan disertai hukum Tuhan, yang kadang kita abaikan, dan itulah kelemahan manusia. Namun cinta, cinta adalah mesin. Mesin ini yang mendorong orang kembali kepada hukum Tuhan. Karena Tuhan mencintai manusia lewat proses hidupnya. Setiap makhluk menyadari ini. Tuhan menawarkan, hidup sesuai dengan aturanNya. Untuk mencapai keseimbangan sempurna. Manusia menerjemahkan cinta Tuhan dalam berbagai cara sementara waktu terus berlalu. Tapi cinta selalu ada di sana. Mungkin berbeda dari satu abad ke abad yang lain. Tapi dia terus mendorong orang untuk bertindak. Mencintai orang lain. Mencintai keluarga. Mencintai negara.

Senja telah datang. Sebentar lagi buka puasa. Saya tidak lagi merasa lapar. Karena apalah arti lapar bila dibandingkan dengan kerasnya bertahan hidup dari wanita itu. Juga samahalnya dengan banyak orang duafa yang bertahan hidup di negeri saya. Mereka kumpulan manusia yang sebetulnya kuat. Karena mereka tidak mengeluh dan tidak berharap dari segala kemudahan. Mereka bertahan hidup berkat cinta Tuhan yang membuat mereka mengabaikan untuk membenci dalam keluhan yang tiada henti. Walau mereka tidak paham apa itu agama sesungguhnya namun Tuhan hadir dalam proses hidupnya. Membuat mereka selalu punya harapan. Tanpa berputus asa akan rahmat Tuhan.

Sebetulnya kemiskinan lahir dari ketidak seimbangan. Karena manusia mengabaikan hukum Tuhan untuk mencapai keseimbangan. Takut miskin dan menghindar dari kelelahan. HIlanglah struggle untuk mencapai keseimbangan itu. Dunia sekular hanya menghitung rasio Gini atas distribusi kekayaan tetapi lupa menghitung distribusi cinta. Makanya yang nampak adalah peradaban paradox, dimana ilmu tidak melahirkan kebijakan dan harta tidak menimbulkan kebahagiaan tetapi justru menangis ditempat sepi dan menumpang tawa ditempat ramai. Selalu punya waktu melihat keluar namun buta melihat kedalam. Selalu punya alasan membenci dan menolak untuk memaafkan apalagi memaklumi.

“ Hidup adalah perjuangan atas sebuah pilihan. Wanita itu tidak memilih untuk meminta dan modus. Tentu pilihannya ada resiko. Mungkin dia bisa saja menolak resiko agar terhindar dari luka dan jatuh. Namun yakinlah dia tidak akan menjadi apa apa dan bukan siapa siapa. Tetapi dengan dia melewati resiko, terluka dan jatuh, dia tahu arti mencintai dan paham bagaimana bersyukur kepada Tuhan. Itulah hakikat dari kehidupan, berjalan dijalan Tuhan dan selalu berprasangka baik kepada Tuhan tanpa prasangka buruk terhadap orang lain” demikian kata teman saya mengakhiri pertemuan hari itu.

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...