Monday, October 23, 2017

Pribumi dan Non Pribumi?


Ada yang tanya ke saya bahwa PBB saja memperingati hari Pribumi. Saya hanya tersenyum. Karena dia hanya baca terjemahan dari media massa yang wartawannya mungkin engga punya wawasan dan kurang mengerti dalam bahasa inggris " Indigenous Peoples' Day" itu bukan hari pribumi. Tapi hari Adat secara spesifik. Tentu kalau bicara adat adalah bicara kebiasaan penduduk asli yang masih melekat dalam keseharian walau telah terjadi perubahan disekitarnya. Mau tau apa yang dimaksud Indigenous Peoples itu, ya suku Asmat, di Papua, suku Kubu di Jambi, Suku Nias, Sumatera Utara. Suku Badui, di Jawa Barat. Suku Dayak, di kalimantan . Suku suku ini masih sangat kuat kebudayaannya walau orang sudah jualan online dan saling bully di sosmed.

Nah Pribumi itu apa sih ? kalau mengacu kepada KBBI maka yang dimaksud pribumi itu adalah penduduk yang asli lahir, tumbuh, dan berkembang berasal dari tempat negara tersebut berada. Jadi, siapapun anda yang lahir di Indonesia, besar di Indonesia maka anda adalah pribumi. Tidak peduli orang tua atau buyut anda berasal dari Arab, China, India atau Belanda. Anda adalah pribumi ! Makanya, orang Indonesia yang melahirkan anaknya di luar negeri, dia segera datang kekedutaan untuk mendapatkan akta kelahiran. Kalau tidak ada kedutaan, dia bisa datang ke kapal berbendera Indonesia ( merah putih ) untuk disaksikan oleh kapten kapal bahwa anak itu lahir di teritori Indonesia. Kalau engga anak itu akan kehilangan statusnya sebagai penduduk asli Indonesia.

Nah pertanyaan berikutnya mengapa ada istilah non pribumi dan pribumi? istilah ini awalnya ada pada era kolonial dimana berlakunya politik diskriminasi. Belanda mengistilahkan pribumi dan pribumi untuk membedakan mana yang warga penjajah dan terjajah. Mengapa ? Agar isolasi politik, perlakuan sosial oleh penguasa terhadap rakyat jajahan dapat dilakukan secara efektif sehingga secara sosial dan budaya para kaum pribumi itu jadi terjajah. Tapi harus ingat , bahwa istilah pribumi dan non pribumi itu bukan berdasarkan definisi kelahiran, tapi berdasarkan status sosial orang. Orang etnis china atau Arab bahkan jawa sekalipun yang masuk kelompok feodal, menganggap dirinya bukan pribumi agar status sosialnya berbeda dengan rakyat jelata. istilah mereka “ hitam hitam , belanda juga”.

Di era Soekarno , istilah Pribumi dan non pribumi masih dipakai bukan bertujuan diskriminasi tapi tak lebih cara Soekarno melakukan revolusi mental agar kaum kaya bangawan yang masih menganggap dirinya berbeda dengan rakyat jelata mengubah sikapnya untuk memandang semua orang itu sama. Sampai Soekarno mengkampanyekan agar kaum pribumi diberi hak istimewa di bandingkan non pribumi. Yang dimaksud non pribumi itu bukan orang china, atau arab, barat tapi orang yang masih menganggap dirinya kaum bangsawan. Mental bangsawan itu memang mental penjajah, walau dia sendiri adalah orang Indonesia asli.

Di Era Soeharto , istilah pribumi dan non pribumi dipakai lagi. Tujuannya spesifik terhadap etnis china. Maklum ini berangkat dari politk Orba yang bangkit dari akibat kemenangan melawan PKI yang pro China. Diskriminasi terhadap etnis China tak lebih politik ingatan agar umat islam sebagai musuh utama PKI dapat terus mendukung Soeharto berkuasa. Sementara secara pribadi Soeharto sendiri sangat dekat dengan etnis China, Semua sahabat Soeharto yang menggerakan ekonomi indonesia adalah etnis China dan mereka berkembang berkat konsesi bisnis yang diberikan Soeharto secara KKN. Dan terbukti belakangan Soerhato melarang penyebutan istilah pribumi dan non pribumi. Di era Reformasi amandemen UUD 45 tidak lagi menyebut istilah pribumi tapi penduduk asli indonesia dan mereka disebut WNI.

Andaikan Anies menang PILKADA tanpa membawa emosi Agama menjatuhkan Ahok mungkin pidato politik Anies tidak akan punya arti apa apa walau ia menyebut istilah pribumi dan non pribumi. Tapi ingatan orang langsung tertuju kepada politik diskriminasi ala Soeharto yang menggunakan emosi umat islam membenci China agar berkuasa. Dan kini partai Gerindra juga menggunakan istilah pribumi agar dapat meraih kekuasaan dengan mudah. Mengapa ? Karena memang sebagian besar umat islam di Indonesia secara ekonomi tidak mendapatkan keadilan. Bagi Anies yang phd ilmu politik dan Gerindra yang memang basisnya idiologi Soeharto , tahu percis menggunakan issue pribumi untuk memancing emosi umat islam mendukung mereka berkuasa di Negeri ini.


Padahal ketidak adilan ekonomi itu ada bukan karena negara menciptakan diskriminasi sosial dan politik terhadapat umat islam tapi memang secara mental sebagian umat islam masih terjajah oleh pemikiran mereka sendiri, sehingga sulit bersosialisasi dan berkembang karena waktu. Apalagi sebagian ulama semakin pemberbodoh mereka agar menjadi haters demi tujuan politik dan uang. Benarkah ? Lah itu etnis china yang jelas di diskriminasi oleh Soeharto, kok mereka tetap bisa berkembang karena waktu. Dan sukses secara ekonomi. Mengapa ? karena secara mental, merdeka atau tidak merdeka negara, secara pribadi mereka sudah merdeka, baik dari segi pemikiran maupun budaya. Jadi masalah ketidak adilan sosial dan ekonomi bukan karena politik negara tapi karena mental. Perbaikilah mental, jangan ada lagi istilah pribumi dan non pribumi.

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...