Saturday, April 16, 2016

Marah..

Setelah melalui pembicaraan telp yang cukup lama,saya baru sadar jantung saya berdebar debar dan tangan saya dingin. Saya sadar jantung saya berdetak kencang sebagai tanda emosi saya meningkat Saya marah tanpa terungkapkan.Saya sedih tanpa air mata. Saya kecewa tanpa mampu bermasam wajah. Dengan langkah lemah, ,saya memilih untuk segera pulang. Ketika itu jam menunjukan dini hari. Saya menyetop taksi untuk pulang.Supir taksi nampak ramah menanyakan tujua saya.
" Asal mana pak ? tanya saya sekedar menenangkan diri.
" Tegal,Pak "
" Oh..gitu.."
" Pak..
" Ya..
" Tadi barusan saya kena tilang Polisi.."
" Salahnya apa ?
" Masuk jalur bus way.."
" Ya seharusnya bapak tertip dijalan."
" Bukan itu masalahnya pak.."
" Jadi masalahnya apa?
" Tadi isri saya telp minta uang kontrakan yang kurang.Entah kenapa saya bentak istri saya..dan sekarang saya menyesal.Tidak seharusnya istri merasakan imbas akibat masalah saya dijalan...."
" Kenapa harus dibentak ? yang sabarlah sama istri."
" Saya masih marah dengan kesalahan saya yang kena tilang dan bayar polisi.
"Oh.."

Supir taksi itu menyadarkan saya. Keluarga dan sahabat kita adalah orang terdekat kita, sumber kebahagiaan kita.Jangan biarkan mereka bertanya " mengapa harus marah?...Ya..setiap hari kita memiliki banyak kesempatan untuk marah, stres atau tersinggung. Tapi apa yang kita lakukan ketika kita memperturutkan emosi negatif maka itu sama saja kita mencabut sumber bahagia.. Jangan biarkan kebahagiaan tercabut dalam diri anda karena masalah sepele yang bisa segera membesar ketika anda kehilangan kendali atas diri anda. Mengapa ? Marah melemahkan hati. Sedih melemahkan paru-paru. aKhawatir melemahkan perut/lambung. Stress melemahkan jantung dan otak. Takut melemahkan ginjal. Bebaskan dari semua ini dan Anda akan baik-baik saja dan sehat.

Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya. Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai. Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Dari sahabat Sulaiman bin Surd, beliau menceritakan, “Suatu hari saya duduk bersama Rasulullah. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang’. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih). Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa bagi ini. Rasulullah mengingatkan, “Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim).  Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi, dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya. Karena itulah, Rasulullah memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah.  Dari Muadz bin Anas Al-Juhani, Rasulullah bersabda, “Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.” (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)


3 comments:

Guru Indonesia said...

Marah selalu menjadi emosi yang sering dianggap membawa masalah, dan memang betul marah akan melemahkan hati.
Tapi jika disuruh memilih antara marah dan putus asa, maka saya akan lebih memilih marah.

Unknown said...

Astagfirullah....

E-learning Internet Marketing Indonesia said...

SEMOGA Allah SWT menjauhkan kita dari sifat Amarah.

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...