Sunday, August 16, 2015

Kamu...

Malam masih seperti malam sebelumnya. Aku disini dan kamu disana. Kita akan selalu berjarak dalam diam. Walau gelora hari kita menembus laut dan benua , namun semua terbang terbawa sekawanan burung yang pergi entah kemana. Kini aku tak ingin lagi bertanya lebih jauh tentang kamu. Biarkan aku cukup membayangkan kegigihanmu menutupi kelemahanku. Melindungiku dari kebodohanku. Menjagaku dalam kealfaan. Menggiring ku kearah cahaya dimana aku harus melangkah ditengah kegegelapan. Setelah itu kamu pergi. Mengapa ? Maaf, ini bukan hendak bertanya kepadamu. Sebegitu indahkah makna persahabatan yang terpatri dalam dirimu.Seperti apakah kira kira makna itu. Katakanlah kepadaku. Katakan.... Kamu diam ,menjauh dan berjarak, Setelah itu semua tinggal misteri bagiku, dalam hening.

Malam masih seperti malam sebelumnya. Dari balik jendela kamar kulihat bulan bulat putih pada hari ini. Tanpa bingkai mega. Dikitari oleh taburan bintang yang berkelip bagaikan kunang kunang. Semakin kupandang semakin jauh kenangan terbawa. Masihkah kamu mengingatku. ? mungkin tidak. Atau setidaknya kamu mengingat dalam kesadaran seperti kesadaran burung yang harus terbang kebenua lain berlindung dibalik musim salju. Tak ada yang istimewa, Bila harus pergi maka pergilah. Setelah itu yang ada hanyalah kepasrahan untuk sebuah pilihan yang tak bisa memilih. Tegarkah kamu ? Ah terlalu bodoh aku bertanya seperti itu. Tapi bulan itu dimalam ini membawaku kepadamu.Tapi aku yakin kamu akan baik baik saja.

Hari ini aku harus berkata satu kepada diriku bahwa kamu bukanlah milik siapa siapa, Kamu adalah milik sang pencipta. Aku tak ingin lagi merisaukan tentang dirimu. Setidaknya doaku akan lebih khusu untuk kamu yang sendiri ditengah orang ramai.Betapa tidak ? Inilah yang tak pernah bisa kulupakan tentang kamu. Kali pertama pertemuan kita di musim semi , di Shanghai. Tidak ada yang istimewa. Aku dengan aku dan kamu dengan kamu. Namun dalam perjalanan waktu , dalam kebersamaan team, kamu tampil memukau sebagai profesional kelas dunia. Aku semakin merasa bodoh dihadapanmu. Namun kamu tak pernah nampak superior dihadapanku. Raut wajahmu begitu bersemangat memancarkan magnit untuk kumengerti bahwa kamu peduli dengan obsesiku, dengan impianku.

Malam masih seperti malam sebelumnya, tak beda dengan diriku yang melangkah terseok seok dijalan berliku dan berduri. Kini , aku lelah dan sangat lelah. Ditengah kegalauanku itulah kamu datang menemuiku. Selalu begitu. Kita saling tersenyum melangkah kekorsi dipinggir dermaga tanpa saling bertatap. Kita asyik dengan lamunan kita tanpa bersetatapan.

“ Masih vegetarian “ tanyamu.
Aku hanya mengangguk dan tesenyum.
“ Besok aku harus kembali. “ katamu. 
“ Secepat itukah ? Tanyaku
“ Ya. Besok jam 2 sore pesawatku.“
Kamu berdiri. Melangkah menjauh kearah pagar dermaga. Angin sepoi sepoi dibulan april ini membuat tubuhmu yang ramping seakan begitu serasinya dalam keindahan senja yang merangkak menuju malam.“ Kamu tahu.. Sulit dipahami sikapmu dulu.Kamu melukaiku dan membuatku harus menangis dimalam sepi. Tapi kini aku sadari kamu benar dengan sikapmu. Maafkan aku”
“ Maafkankan aku juga karena tidak bisa menjelaskan sikapku dan hanya berharap suatu saat kamu bisa mengerti.“
Kamu terdiam dan lambat tubuhmu kembali menghadap dermaga , memunggungiku. Aku tetap diam. Kamu mengalihkan pandanganmu ketempat lain. Kemudian melangkah agak menjauh dari tempat ku duduk. Desiran angin laut membelai halus rambutmu.
“ Brother, kamu tau ..! serumu hingga membuat aku terkejut. “ Aku tahu adalah bukan sifatmu untuk pergi. Aku banyak bergantung padamu. Sementara , kamu selalu senang membantu dan tidak pernah terganggu bila kadang aku mulai mengucilkanmu, melecehkanmu. Ya itulah budaya kami. Ketika kami berpikir itu adalah tidak mungkin dan beresiko, kamu tampa diminta sudah lebih dulu menawarkan diri menghadang resiko itu. Ketika kami kawatir dengan semua ini , kamu hadir dengan senyum hangat untuk meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja. . “ Kamu nampak menahan tangis namun airmata nampak mengambang dipelupuk matamu.“ Sekarang…inilah aku. “ katamu. 
Aku hanya tersenyum. “ Aku senang bila pada akirnya kita dapat bertemu lagi. Aku kangen kamu”
“ Aku juga kangen..sangat..”Kulihat kamu menangis dan pergi belalu dari hadapanku. Sambil berbisik ” “Take care your health, my dear” Aku hanya terdiam tanpa berani untuk menghalangimu.

Satu hal yang dapat kuungkapkan kepadamu bahwa Allah memberiku begitu banyak maka ini adalah berkah dan sekaligus beban. Kecintaanku kepada sahabat dan siapa saja hanyalah untuk lebih pandai bersyukur. Semuanya kulakukan hanya karena cinta.. Bukan masalah siapa memanfaatkan siapa tapi lebih kepada kepedulian ketika kita mampu berkorban kepada orang yang terdekat dengan kita. Semoga perjalanan waktu dapat membuat kamu menyadari bahwa kecintaan persahabatan begitu agung ketika kita dapat bersikap dengan jelas tanpa pamrih. Walau karena itu kita harus berjarak.Tapi kataku terbang terbawa angin sore. Kamu telah jauh dari hadapanku dan tak terjangkau lagi.Semoga kamu selalu baik baik saja..

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...