Sunday, April 19, 2015

Islam identitas..?

Abdulkarim Soroush  ikut dalam barisan Ayatullah Khomeini dalam Revolusi Iran. Ia bahkan pernah ikut dalam dewan penasihat untuk “membersihkan” universitas dari unsur-unsur “non-Islam” sebelum lembaga pendidikan itu boleh dibuka kembali. Ia kemudian berhenti dari sana memang, namun ia bukannya seorang intelektual yang dianggap “orang luar”. Mahmoud Sadri dan Ahmad Sadri mengumpulkan karya Soroush dan menerjemahkannya dalam Reason, Freedom, and Democracy in Islam, dan menggambarkan keistimewaan pemikir ini sebagai satu kombinasi yang langka: ia punya pemahaman atas hukum Islam tradisional dan juga ia punya dasar ilmu eksakta serta sastra dan humaniora. Bukunya tentang puisi sufi Rummi dianggap sebagai salah satu yang paling berwibawa di bidang itu. Tapi dari Rummi pula ia memasuki wilayah yang berbahaya. Ia, yang pernah mengagumi Al Ghazali, akhirnya menyimpulkan bahwa ada tasawuf yang didasarkan pada rasa takut, tapi, seperti yang dibawakan oleh Al Ghazali, ada pula yang berdasarkan cinta, seperti yang dialunkan oleh Rummi. “Akhirnya saya sadar bahwa ada yang disebut agama individual, yang gurunya adalah Rummi, dan ada agama yang disebut sebagai sebuah agama kolektif yang diajarkan oleh fikih dan syariah, dan merupakan wilayah Al Ghazali,” kata Soroush dalam percakapan dengan Mahmoud Sadri dan Ahmad Sadri.

Agama kolektif itulah yang jadi kian tampak setelah Revolusi Iran—yang kemudian juga berkembang di tempat lain sebagai, dalam kata-kata Soroush, “Islam identitas”, yang berbeda dengan “Islam kebenaran”. Dalam suasana itu, suatu usaha untuk meng-ideologi-kan Islam bergelora. Di situ pulalah Ali Shari’ati, pemikir yang terkenal dari masa menjelang dan sesudah Revolusi—yang tulisannya dikagumi kalangan Islam generasi muda, juga di Indonesia—mengambil peran penting. Islam, menurut Ali Syariati, mempunyai pandangan Tauhid, yakni menuntut manusia hanya takut pada satu kekuatan, yaitu kekuatan Tuhan. selain Tuhan, yang lain hanyalah kekuatan yang tidak mutlak alias palsu. Tauhid menjamin kebebasan manusia dan memuliakan hanya semata kepada-Nya. Pandangan ini menggerakkan manusia untuk melawan segala kekuatan dominasi, belenggu, dan kenistaan manusia atas manusia. Tauhid memiliki esensi sebagai gagasan yang bekerja untuk keadilan, solidaritas, dan pembebasan. Ali Syariati mendefinisikan bahwa bila merindukan perubahan, maka dibutuhkan Raushanfikr (orang-orang yang tercerahkan), yakni individu-individu yang sadar dan bertanggung jawab  membangkitkan karunia Tuhan Yang Mulia, yaitu “kesadaran diri” masyarakat. Sebab hanya kesadaran diri yang mampu mengubah rakyat yang statis dan bobrok menjadi suatu kekuatan yang dinamis dan kreatif. Sosialisme dalam perspektif Ali Syariati adalah paham yang berpihak pada kaum tertindas (mustadzafin) dan meluruskan perjalanan sejarah dari kekuasaan tiran menjadi kelompok tercerahkan, berpihak pada kelas bawah (proletar) bersama orang-orang yang berada di jalan Tuhan.  

Soroush tidak merasa jenak. Baginya ada satu alternatif lain, yang ia sebut sebagai “perluasan dan penyempitan tafsir”. Ia menyuarakan keniscayaan pluralitas. Baginya kebenaran dari mana pun “kompatibel”. Tak ada kebenaran yang bentrok dengan kebenaran lain. “Mereka semua penghuni dari rumah yang sama, dan bintang dari gugus yang sama.” Kita tak mungkin memiliki semua kebenaran, dan kita membutuhkan tempat lain serta orang lain untuk membantu membuka aspek yang berbeda dari kebenaran itu: “pengetahuan keagamaan secara keseluruhan adalah campuran yang benar, yang salah, yang lama, dan yang baru yang mengalir seperti di dalam sebuah sungai besar,” kata Soroush. Maka, sebagaimana direnungkan oleh Ahmad Wahib di Indonesia hampir seperemat abad sebelum dia, bagi Soroush Islam bukanlah, dan tak seharusnya jadi, sebuah ideologi—sesuatu yang diasumsikan bisa menjelaskan segala hal, membimbing segala ihwal. “Shari’ati ingin agama lebih gemuk, tapi saya ingin agama lebih ramping,” kata Soroush. Ketika ada yang berkata tentang “Islam identitas”,  bahwa ia paling benar dalilnya maka ada dua hal yang sedang dia perjuangkan, pertama adalah agama sebagai alat merebut hegemoni politik untuk meraih kekuasaan,  kedua, memperkecil nilai islam itu sendiri agar Islam sebagai rahmatanlilalamin meredub melalui kampanye perbedaan mahzab, golongan, etnis. Keduanya sengaja untuk melepaskan agama sebagai kekuatan individu,yang terikat langsung dengan sang Khalik. Makanya hak individu dalam menentukan pilihannya sangat ditentang oleh mereka.  Mereka membenci demokrasi dan segala turunan yang membela hak azasi manusia yang tidak sesuai dengan “Islam identitas”. Mereka punya visi dan misi, serta keyakinan. Bahwa merekalah yang akan menjamin kehidupan ini menjadi beres. Yang lain akan binasa dan sengsara.

Bagi saya baik  Ali Shari’ati maupun Soroush adalah hadirnya Ilmu didunia bahwa Allah disamping menurunkan Ilmu khasshah melalui Al Quran dengan perantara Rasul , Allah juga menurunkan  ilmu ‘ammah kepada manusia secara langsung yang  disebut dengan ayat-ayat kauniyah. Artinya ,apakah sesuatu yang tidak diatur dalam  Al-Quran lantas bukan berasal dari Allah? Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS al- Kahfi [18]:109). Jadi salah besar bila agama dikotak oleh harakah ‘Islam indentitas “ dan meng claim hanya dalil nya saja yang benar. Islam terlalu luas untuk hanya dimonopoli satu harakah saja. Apalagi hanya berlandaskan kepada imu khasshah dan miskin ilmu ‘ammah. Dan pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Alquran (lih. al-Baqarah 256; Yunus 99). Dari Ali Shari’ati, revolusi Iran mendapatkan tempat dan mulai ada kesadaran untuk perubahan yang lebih baik, keberanian untuk bergerak dan kesadaran kelas mulai menggeliat. Butuh bertahun-tahun setelah revolusi islam Iran yang sukses menjatuhkan Syah, akhirnya di era Ahmadinejad sebagai Presiden, pemikiran Soroush mendapat tempat dalam kebijakan politik Iran dan Iran tumbuh dan kuat sebagai bangsa...

1 comment:

Anonymous said...

Subhanallah. Semoga masih tersisa ruang dalam pikiran kita "bilamana kita berbeda dalam pandangan beragama, maka kembalikan lah kepada Allah SWT, Pencipta dan sekaligus Pemilik agama itu sendiri". Biarkan AllahSWT melalui Al Quran NYA, menjelaskan kepada kita tentang apa yg kita perselisihkan itu. InsyaAllah dgn demikian kita akan sampai kepada kebenaran yg hakiki. Amiin YRA.

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...