Sunday, August 10, 2014

Bukan akhlak Islam...

ISIS dan kepala yang disembelih
Pria itu dibawa ke alun-alun. Matanya ditutup kain hitam. Ia menjadi orang yang kesekian yang di gorok lehernya. Para pejuang ISIS di sekelilingnya membacakan kejahatannya dari selembar kertas. Pemuda itu berlutut di tanah, tangannya diikat. Dia tampak beku.Dua pemberontak membisikkan sesuatu ke telinganya dan pemuda itu nampak menggeleng gelengkan kepala. Seakan tidak menerima apa yang dikatakan oleh pemberontak itu. Pada saat eksekusi dilakukan , mereka mencengkram tenggorokan pria itu. Pria itu mencoba untuk melindungi tenggorokannya dengan kedua tangannya masih terikat. Ia mencoba melawan tapi mereka lebih kuat dari dia dan mereka memotong lehernya. Setelah itu...mereka mengangkat kepalanya ke udara. Orang-orang melambaikan senjata mereka dan bersorak. Semua orang senang bahwa eksekusi telah dilaksanakan. Demikian teman saya menceritakan apa yang dia lihat ketika bertugas sebagai volunteer kemanusiaan di Suriah. Apa yang terjadi di Suriah saat ini, adalah seperti sebuah adegan dari abad Pertengahan, sama seperti yang anda  baca di buku-buku sejarah. Perang di Suriah telah mencapai titik di mana seseorang dapat tanpa ampun dibunuh di depan ratusan orang-orang yang menikmati tontonan. Baik tentara maupun pemberontak menggunakan standard yang sama tentang kebrutalan dan mengabaikan prinsip prinsip perang modern yang diatur dalam  konvensi jenewa, bahwa musuh yang sudah menyerah harus dilindungi haknya.

Pasukan ISIS
Tahun ini memasuki tahun keempat perang saudara di Suriah, semakin banyak kekejaman yang dilakukan oleh tentara yang setia kepada rezim Presiden Bashar Assad, serta pemberontak bersenjata dan militan Islam dari berbagai aliran seperti Milisi Syi'ah (Asing) dan Hizbullat, mujahidin Sunni ( Asing) dan ISIS. Di Suriah kedua belah pihak baik rezim pemerintah maupun pemberontoak mengaku beriman kepada Allah dan Rasul ,entah itu Sunni, salafi/wahabi, Alawit, Syiah atau salah satu sekte lainnya. Tapi kedua belah pihak mempunyai standard sama yaitu kebrutalan. Di Irak juga sama, baik pemerintah maupun ISIS  tidak mengikuti standard Islam. Tentara Irak menghukum mati para tawanan perang dari milisi ISIS. ISIS juga melakukan hal yang sama. Sementara cara cara pasukan ISIS menaklukan wilayah percis sama dengan cara Genghis Khan yaitu menciptakan rasa takut. Warga Irak tahu pasti bahwa di Suriah, ISIS  menyembelih masyarakat sipil dan tentara dan menyalib umat Kristen. Kisah kekejaman pasukan ISIS ini menjadi momok menakutkan bagi warga Irak. Saat ini ISIS telah menguasai 15 kota di Irak termasuk satunya kota-kota kristen di Irak. Penguasaan ke-15 kota tersebut menyebabkan ISIS mengeluarkan ancaman bagi kaum minoritas untuk menerima ideologi ekstrim yang dibawa mereka. Bila kaum minoritas menolak, maka sejumlah hukuman termasuk eksekusi mati harus mereka terima. Hal ini menyebabkan ada  lebih setengah juta warga Irak mengungsi kewilayah lain karena takut akan ancaman ISIS.

Pengungsi Irak
Benarkah sikap ISIS itu? Bagaimana sikap islam terhadap pihak yang tidak setuju dengan khalifah Islam? Ketika Abu Bakar dibaiat khalifah pertama oleh kaum muslimin, seorang sahabat dan tokoh anshar bernama Sa'ad bin Ubadah tidak mau membaiat Abu Bakar hingga beliau wafat. Tapi khalifah Abu Bakar tidak memerangingya dan dia tetap aman serta tidak ada satu pun sahabat yang mengkafirkannya. Artinya, orang islam yang tidak mau berbaiat kepada khalifah yang tidak mereka setujui bukan dosa. Apalagi orang beragama non Islam.Tidak bisa dipaksa untuk berbaiat kepada Khalifah.  Bagaimana sikap Islam terhadap musuhnya? Sejarah mencatat, usai Perang Badar sebanyak 70 orang tawanan Makkah yang ditangkap dalam perang itu dibebaskan oleh Rasul tanpa satupun disiksa atau dilukai. Ketika Muhammad Al Fatih memimpin pasukannya memasuki kota konstatinopel dengan kemenangan, dia tidak menzolimi mereka yang kalah, tidak membunuh musuh yang menyerah,tidak memaksa orang masuk Islam. Semua penduduk konstatinopel mendapatkan perlindungan dari sultan,walau mereka berbeda. Saladin ketika merebut Jerusalem, tidak ada satupun rakyat non muslim dibunuh.Tidak ada satupun tempat ibadah umat kristen di rusak. Al Fatih dan Saladin keduanya dikenal sebagai penakluk. Mereka berdua meneladani Rasul ketika berhasil menaklukan Makkah tanpa ada satupun darah tertumpah dan tanpa merendahkan kehormatan mereka yang kalah.  Ya, tujuan utama dari perang yang dilakukan umat Muslim adalah guna menegakkan kebebasan beragama dan beribadah, menegakah kebenaran, kebaikan dan keadilan. Jadi sebetulnya islam tidak pernah menginginkan perang dan kalaupun itu terjadi karena mereka diserang lebih dahulu atau agama mereka terancam oleh  kezoliman. Perang adalah jalan akhir bila jalan damai tidak tercapai. Perang bukan hanya motive penaklukan tapi punya dimensi moral. Karenanya kalau musuh inginkan perdamaian maka perang harus segera dihentikan walau perdamaian itu pahit dan sangat pahit. 

Kepedulian Rasulullah s.a.w. atas kesejahteraan umat manusia dan penciptaan kedamaian di seluruh dunia sungguh tidak ada batasnya. Adalah suatu tragedi bahwa dalam masa sekitar seribu tahun terakhir ini para pemuka dan negeri Muslim, sebagian besar telah mengabaikan hakikat ajaran Al-Quran dan Rasulullah s.a.w. semata-mata hanya untuk pemuasan keserakahan dan nafsu kekuasaan atau mencari kekayaan. Mereka berperang satu sama lain untuk memperebutkan kekayaan duniawi. Melalui akhlak buruk  mereka telah menganiaya orang-orang yang tidak berdosa. Secara culas mereka telah mengkhianati kaumnya sendiri dan sesama negeri Muslim hanya untuk mendapatkan kekayaan moneter dan kekuasaan. Sebagian besar dari pemuka ruhani dan duniawi telah menyesatkan kaumnya sendiri dan membawa kebusukan dalam tubuh, fikiran dan jiwa masyarakat. Pada masa kini, beberapa anak muda Muslim secara konyol telah ‘dicuci otaknya’ sehingga menganggap sifat barbar, teror, bunuh diri dan pembunuhan yang mereka lakukan akan menjadikan mereka mendapat derajat syuhada. Sesungguhnya mereka ini telah membawa kebusukan dan mencederai nilai Islam yang katanya mereka cintai. Karena mereka nama Islam sekarang tidak lagi bernuansa kedamaian melainkan disinonimkan dengan laku teror. Mereka bergama islam tapi tidak berakhlak Islam.! Semoga umat Islam di Indonesia tetap dengan akhlak islam,rahmatan lilalamin : islam yang penuh cinta kasih dan menjadi rahmat bagi alam semesta, bukan teror!

2 comments:

Unknown said...

Pak kalau saya pernah dengar salah satu tanda kiamat matahari terbit di barat saya interpretasi-kan secara pribadi berkembangnya islam di eropa sekarang2 ini bagaimana menurut Bapak..?? mungkin ada niatan bikin tulisan ttg ini... thx Pak as always.

bagus said...

Dalam AlQuran, Islam diturunkan untuk menyempurnakan ahlak manusia, bukan diperintah mendirikan negara. Kalaulah jadinya berbentuk negara itu karena orang muslim ahlak dan amalnya sudah sangat tinggi, kebudayaan ,ilmu dan teknologinya tinggi sehingga orang percaya dan senang dipimpin pemimpin muslim.

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...