Saturday, June 22, 2013

Martabat bangsa...

Anda tahu awalnya kami marah dan kecewa dengan pemerintah karena membiarkan orang kulit merah datang ke china dengan modal dan tekhnologi. Apalah kami dibandingkan mereka yang telah lebih dulu maju. Kata teman seorang peneliti di China. Tahun 1990 , General Motor masuk ke China dan disambut dengan karpet merah oleh jajaran elite China. Sebelumnya tahun 1986, VW sudah lebih dulu masuk ke China. Kedua perusahaan ini membangun industry otomative dalam kapasitas raksasa. Milliaran dollar dana ditanamkan untuk memastikan mereka menguasai pasar china yang sedang tumbuh. Apapun yang mereka keluhkan akan ditanggapi dengan cepat oleh para elite china. Mereka mendapatkan fasiltas bebas bea masuk, Fasilitas tax holiday. Dan kemudahan mendapatkan buruh berupah murah. Pemerintah juga menjamin tersedianya  para insinyur yang mau dibayar murah untuk bekerja dibidang riset . Pemerintah juga menjamin resiko investasi akibat perubahan politik dan kebijakan. Karenanya GM dan VW melaju penuh percaya diri. Mereka juga meminta kepada Pemerintah China agar memberikan subsidi kepada industry part otomotive. Tujuannya agar peningkatan produksi dapat didukung oleh  supply chain yang kuat. 

Pemerintah china memerintahkan BUMN nya untuk membina UKM menjadi supply chain industry otomotive itu. Semangat untuk membangun industri pendukung itu tak hanya sekadar dalam bentuk komitmen modal, tetapi juga dukungan politik yang kuat. Strategi yang diterapkan tidak hanya sebatas soal kemudahan dan insentif yang bisa diperoleh oleh para pengusaha yang umumnya UKM tetapi juga konsep resiprokal. Pemerintah merancang sebuah regulasi kebijakan industri otomotif yang bertujuan kepada kemandirian.  Dengan cara itu diharapkan dapat menampung angkatan kerja, memperbesar perolehan devisa, dan memiliki industri dengan dukungan supply chain yang kuat, dan melepaskan ketergantungan yang tinggi terhadap impor bisa terwujud. Belakangan program ini berhasil dengan sempurna. Hasilnya, China kini menjadi salah satu pemasok komponen terbesar di dunia dengan variasi kualitas yang banyak. China bisa menjadi salah satu pemain dunia di otomotif dalam segala bidang karena para pemerintah mampu melihat peluang tersebut dan mendorong pengusahanya untuk ambil bagian.

Awal tahun 2000 General Motors Corp dan Volkswagen telah tumbuh menjadi dua raksasa otomotif yang memiliki kinerja terbaik di China. Mereka tidak pernah menyadari bahwa mereka sedang digiring kedalam lubang pembantaian oleh ribuan UKM yang didukung oleh BUMN China. Mereka tetap saja agresif, bahkan VW yang paling agresif. Raksasa otomotif Jerman ini melakukan investasi secara all out. Menurut data otomotif dunia, pada awal tahun 2003 VW Santana menguasai mayoritas pasar dalam negeri China. Manajemen VW tak sedikit pun merasa takut produknya bakal dijiplak, bagi mereka cuma satu kata, pasar China tak ubahnya tambang emas yang tak pernah habis ditimba. VW pada era itu mampu menjual 511.000 unit, sedangkan GM di posisi kedua dengan volume penjualan sebanyak 110.000 unit.  Dari itu semua, para investor asing berpesta menikmati keuntungan tak terbilang dari melimpahnya pasar dalam negeri dan keunggulan bersaing dipasar international karena harga produk yang murah dihasilkan dari pabrik china yang berupah murah. Rakya china tidak marah bila upah mereka jauh lebih murah ketimbang upah pekerja di Amerika dan Taiwan. Mereka bekerja dengan antusias dan percaya bahwa pemerintah berniat baik.

Sejak tahun 2003 satu demi satu professional GM dan VW mengundurkan diri. Pemerintah memberikan mereka dukungan akses perbankan untuk mendapatkan modal mendirikan pabrik otomotive. VW maupun GM sebelumnya tidak pernah berpikir bahwa para pekerjanya dapat menjadi pesaingnya. Mereka lupa bahwa para insinyur , ekonom yang bekerja sebagai professional itu semua adalah kader Partai yang punya misi untuk kemandirian China. Berkat dukungan supply chain  yang telah eksis berkelas dunia dan dukungan lembaga riset yang disubsidi negara. Pabrik otomotive yang didirikan para professional ex GM dan VW  dengan merek china itu mampu menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga yang bersaing. Pihak VW dan GM menuduh china membajak design dan tekhnologi namun pihak china tidak ambil pusing. Mereka tetap bekerja keras. Yang baik dari VW dam GM  mereka tiru yang buruk dibuang. Setidaknya mereka sangat tahu kelemahan masing masing merek tersebut dan tentu tahu  bagaimana mengalahkannya.

Tindakan ini jelas merupakan hal yang menyakitkan karena VW dan GM merupakan dua pelaku yang selama ini loyal terhadap mitra kerjanya di China, termasuk kepada pemerintah. Puluhan tahun mereka berada di China. Kehadiran mereka tidak hanya sekadar sebagai agen tunggal pemegang merek (ATPM) seperti di Indonesia, tetapi total menjadi industri. Dana miliaran dollar  sudah mereka tanamkan di China, teknologi terbaru terus dibangun, tetapi yang didapat adalah air tuba. Terbukti data otomotif dunia menunjukkan, pangsa pasar VW, yang pada tahun 2001 masih mencapai 40 persen, kini tinggal 20 persen. Bahkan, GM yang membangun usaha patungan di Shanghai pangsanya terus terpangkas hingga 35 persen dan laba keseluruhannya merosot 80 persen, tinggal menjadi 33 juta dollar AS.  Hancurnya pasar diduga oleh para analis adalah kesalahan strategi pasar dari VW dan GM sendiri, yang begitu yakin menetapkan harga setinggi tingginya untuk meraih laba tinggi. Sementara china punya prinsip laba rendah dengan volume tinggi untuk menjamin pertumbuhan berkelanjutan.

Kini 70 % kendaraan yang ada dijalanan China adalah merek China dan sisanya merek jepang , Amerika, Eropa namun sebagian besar sahamnya telah berpindah ke pengusaha china. Teman itu berkata kepada saya bahwa mereka ingin terus bersahabat dan menjaga keharmonian kemitraan dengan siapapun. Tidak ada niat mereka untuk air susu dibalas tuba. Tidak ada. Namun mereka tidak ingin membiarkan modal dan tekhnologi menjajah china. Kemenangan china bukanlah karena kepintaran dibidang sains tapi lebih kepada semangat gotong royong dari semua elemen. Pemerintah dan rakyat bahu membahu untuk keunggulan China. Ini adalah perang total untuk bebas dari penindasan dan lahirnya keadilan dibidang ekonomi dan sosial. Kini rakyat dapat merasakan bahwa para pemimpin yang didukung oleh puluhan ribu insinyur terbaik china mampu menjadikan china bermartabat sebagai tuan dinegerinya sendiri. Bagaimana denganIndonesia.

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...