Wednesday, March 07, 2012

Merubah attitude

Ketika dalam perjalanan pulang, sahabat saya menelphone untuk bertemu dengan saya. Kebetulan dia usai menghadiri pertemuan Venture Capital. Excellence is not a skill. It is an attitude, katanya mengawali ketika kami berdialogh. Saya dapat pahami karena keberhasilannya sebagai CEO venture capital berkelas dunia berkat kemampuannya membangun hubungan dengan mitranya lewat sikap mental yang positip. Menurutnya semua orang ketika melihat uang , dia bisa berubah menjadi apa saja agar dapat meraih uang. Lembaga Venture Capital dipandang sebagai lembaga charity yang bisa membuat impian mereka menjadi kenyataan. Karena assessment projet berbeda dengan perbankan. Namun yang paling menentukan dalam business venture bukanlah technology yang dibawa, skill dari pemrakarsa yang hebat tapi ditentukan oleh attitude dari pemrakarsa  Bagaimana mengetahui attitude mereka itu ? tanya saya. Jangan biarkan kita menguasai pembicaraan. Jadilah pendengar yang baik pada setiap pertanyaan yang diajukan.. Dari dialogh informal ini, kita akan dapat mengetahui dengan pasti attitude calon venture itu. Sikap patience, sinceriry , eternity , passion , humble  akan tergambar dengan jelas.

Lantas bagaimana cara efektif untuk mempunyai attitude positive. Tanya saya. Menurutnya bila kita tidak menginginkan sesuatu maka rubahlah. Namun bila kita tidak bisa merubahnya maka rubahlah diri kita sendiri. Cara merubah diri kita yang paling efektif adalah mulailah mendoakan orang lain , siapapun dia. Ketika kita berdoa kita sedang berada pada puncak spiritual tertinggi. Suatu keyakinan akan kekuatan diluar diri kita namun tak jauh dari diri kita sendiri. DIA-lah Tuhan Yang Maha Agung. Doa adalah prosesi ketika kita sedang berdialogh dengan pemilik cinta dan pencipta Cinta.Saya tertegun dengan kata katanya. Dimana dia mempunyai kiat dengan cara berdoa untuk orang lain.When you pray for anyone you tend to modify your personal attitude toward him.

Seusai sholat saya berusaha berdoa, kata saya. Doa pertama saya teruntuk Rasul , para sahabatnya serta keluarganya. Terbayang akan segala kemulian Rasul dan keagungannya dalam menyampaikan risalah Allah. Rasa terimakasih terucapkan dan kerinduanpun datang. Kemudian, doa saya panjatkan untuk kedua orang tua, Tak ada yang terbayang kecuali pengorbanan agung kedua manusia terbaik setelah Rasul, yang berkorban tanpa syarat untuk anak manusia yang diamanahkan kepadanya. Rasa terimakasih tak bertepi membuncah dan berharap Allah memberikan rahmat sebaik baiknya untuk kedua orang tua saya. Kemudian ,  untuk istri dan anak anak saya. Terbayang akan tanggung jawab yang begitu besar dibebankan Allah kepada saya, sebagai suami, ayah. Pada moment ini saya takut lalai dari tanggung jawab. Berusaha untuk mengingat kesalahan saya dan berusaha mencari kebijakan terhadap segala sikap istri dan anak anak saya. Demikian doa terlantunkan.

Setelah itu, saya akan mengingat orang orang terdekat saya, Mereka adalah sahabat , sanak family yang dekat maupun jauh.  Tak mungkin disebut satu satu. Namun entah kenapa ketika doa terpanjatkan, sekelebat terbayang tentang sahabat yang mungkin membuat saya kecewa atau membuat saya kagum. Yang membuat saya kecewa, saya berdoa agar dia berubah dan sayapun memohon kekuatan dari Allah agar saya juga bisa bersikap bijak atas kekecewaan yang saya rasakan. Bila kagum yang datang , doa saya agar dia tetap sehat dan dimudahkan rezekinya, juga berharap saya dapat hikmah dari kehadirannya dekat saya. Ada juga sanak family yang lama tak bersua, seketika teringat begitu saja ketika berdoa. Sayapun mendoakan agar dia sehat serta dalam lindungan Allah. Dalam doa itu membuat saya merasakan kerinduan untuk bersua dengannya dalam jalinan kekeluargaan untuk saling menyapa dan memperhatikan. 

Tak lupa saya mendoakan bangsa dan negara saya namun yang terbayang adalah sejauh apa yang telah saya perbuat untuk bangsa dan negara saya, kepada kaum mulismin dan muslimat. Doa ini menggiring saya untuk rendah dihadapan Allah dan malu berkeluh kesah karena kebobrokan aparat negara. Saya hanya inginkan agar saya bisa berbuat untuk  negara dan bangsa, berharap kesempatan berbuat lebih karena itu. Dalam doa juga saya tentu berharap agar Allah memudahkan segala urusan saya. Namun ketika doa tersebutkan, yang terbayang adalah bagaimana sikap saya yang belum bijak melihat persoalan.Belum bisa bersikap jujur dengan keadaan saya. Belum bisa sabar dengan waktu.  Maka ada rasa malu kepada Allah mengharapkan keajaiban kecuali berharap agar Allah menunjukan jalan yang lurus dan tetap memberikan kekuatan saya untuk istiqamah dijalan yang benar. Berharap agar saya kuat ketika lemah,  saya istiqamah kita ragu, saya ikhlas dengan waktu dan situasi. Akhirnya tak ada lagi doa yang lebih baik kecuali berharap agar Allah memberikan kesalamatan dunia maupun akhirat. Apapun yang terjadi , terjadilah selagi itu dalam bimbingan Allah, dalam ridho Allah.

Teman itu tersenyum menatap saya. Benarlah adanya. Demikian katanya. Bahwa ketika kita berdoa kepada Tuhan sebetulnya bukanlah komunikasi satu arah tapi komunikasi dua arah antara kita dengan Tuhan. Tuhan hadir dalam diri kita. Ketika kita memohon kepada Tuhan pada waktu bersamaan Tuhanpun mengingatkan kita tentang kelemahan kita, kelalaian kita, kesombongan kita, ketidak jujuran kita, kemalasan kita, kerakusan kita, kebodohan kita, kekikiran kita, Tanpa disadari proses doa itu adalah ajang intropeksi kita dihadapan Tuhan untuk mengingatkan kita agar  berubah menjadi sempurna. Ya bila doa dilakukan setiap hari , setiap hari kita sedang mengadili diri kita sendiri. Secara kejiwaan kita cenderung untuk berjuang , untuk berubah lebih baik maka tentu doa permohonan itu akan terkabulkan dengan sendirinya sebagai sebuah sunattullah.

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...