Wednesday, August 05, 2009

Iran

Hari senin kemarin, Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, secara resmi merestui masa jabatan presiden Mahmoud Ahmadinejad untuk kedua kalinya. Dengan telah diperolehnya restu pemimpin tertinggi Iran itu, Ahmadinejad akan segera diambil sumpahnya oleh Parlemen pada hari rabu. Perseteruan antara kubu A Ahmadinejad dengan kubu oposisi Rafsanjani , Mohammad Khatami, Mir Hossein Mousavi dan Mehdi Karoubi berakhir sudah. Walau keempat kubu oposisi itu menentang keputusan itu dengan tidak menghadiri acara perestuan itu, namun the game is over. AS dan sekutunya tetap tidak mendukung keterpilihan Ahmadinejad sebagai president. Walau system demokrasi Iran telah melewati proses yang rumit dan memenangkan capres yang anti AS.

Saya memperhatikan soal Iran ini secara cermat melalui media massa. Juga melalui jaringan sosial internet. Semua media massa pro barat/AS tak henti hentinya melakukan kampanye mengecam Iran dan mendukung kelompok oposisi.,. Tewasnya seorang wanita dalam demontrasi besar besaran di Teheran paska Pileg Iran, dimuat luas oleh media international. Tak ketinggalan berita bertebaran lewat situs internet yang dimotori oleh Twitter, yang kemudian diikuti oleh You Tube, Facebook dan lainnya. Pejabat tinggi National Security Agency semasa George Bush, Mark Pfeifle memuji para media massa tersebut dan mengatakan dalam wawancara dengan FoxNews bahwa pendiri Twitter berhak mendapatkan Nobel Perdamaian.Dan Obama pun berkata bahwa ” Justice is needed for Iranians.

Mungkin sebagian kita menganggap bahwa demokrasi di Iran telah gagal karena kecurangan dan kekerasan terhadap demontrans. Benarkah ? Peristriwa paska Pileg memang dimanfaatkan secara systematis oleh AS dan Barat untuk menyudutkan Ahmadinejad yang anti AS. Tentu oposisi yang menentang Ahmadinejad lebih dipilih atau didukung oleh AS karena oposisi berjanji akan membekukan program nuklir Iran dan sekaligus akan bersikap lunak terhadap AS/Barat. Cara cara memanfaatkan massa jalanan memang efektif dalam system demokrasi bila cara procedural tidak seperti apa yang diamuin oleh AS. Namun ini dibaca dengan jelas oleh para mullah yang merupakan majelis tertinggi di Iran.

Teman saya di Dubai, yang aktif mendukung project funding di Iran mengatakan bahwa ” keributan yang terjadi paska Pileg adalah cara smart para mullah ,seperti menebar u mpan dicelah celah bebatun ditengah gurun untuk menangkap ular yang bersembunyi. Iran memang butuh ekstra hati hati terhadap siapapun yang ingin merubah Iran menjadi boneka AS. Terbukti, setelah Pileg keributan terjadi dan Iran berhasil menggilas hidden enemy yang berlindung dibalik demokrasi. Mereka semua ditangkap dan diadili tanpa publikasi. ”. AS tidak pernah belajar dari masalalu. Dulu ketika ”Irangate”, Oliver O North anggota NSA menjadi pesakitan didepan Senat AS karena mendukung persenjataan bagi kelompok penentang mullah untuk melakukan kudeta terhadap Ayatullah Khomeini, yang terbukti itu hanya rekayasa Mullah untuk mendapatkan senjata dari AS melawan Irak ( yang didukung AS )

Banyak pihak tak begitu paham tentang system demokrasi di Iran. Bahwa di Iran penguasa tertinggi adalah para Mullah, yang sekarang dipimpin oleh Ayatollah Ali Khamenei. Mullah inilah yang bertanggung jawab menentukan kebijakan strategis Iran dan sekaligus mengomandoi Angkatan bersenjata dan badan intelligent Iran dan berwewenang menyatakan negara dalam keadaan perang. Panglima Angkat Bersenjata , Kepala Polisi, Stasiun radio/televisi serta enam dan dari dua belas anggota Mejelis Wali Iran juga dilantik oleh Pemimpin Tertinggi ( Mjullah). Jadi president dan parlemen dalam system kekuasaan Iran tak lebih hanyalah alat dari para mullah ( penguasa tertinggi ) untuk tegaknya Islam dalam menegakan keadilan. Inilah system demokrasi ala Islam yang diyakini oleh Iran sangat efektif membendung kekuatan dari luar.

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...