Tuesday, October 14, 2008

Kebodohan ?

Kebodohan itu sumber penyakit hati dan sumber segala kejahatan. Puncaknya adalah penderitaan ,keresahan ,kehinaan didunia dan akhirat. Allah mengingatkan dalam firmannya tentang orang yang hina dan bodoh karena lari dari kebenaran agama, dalam Alquran Surat Al- Furqon 44 “Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar dan memahami ?. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya. “ Dan perumpamaan tentang binatang merupakan hilangnya interlektualitas dan moral , yang tentu lebih hina dari binatang. “Sesungguhnya (makhluk) yang paling jelek di sisi Allah adalah orang yang bisu dan tuli yang tidak mau mengerti apapun (tidak mau mendengar dan memahami kebenaran).” ( QS- Al-Anfal : 22).
***
Apakah kebodohan itu hanya dimiliki oleh orang yang tak pernah masuk perguruan tinggi ? Ini kalau diajukan pertanyaan secara ilmiah maka yang berlaku ada aksioma bahwa orang bodoh karena tidak ada pendidikan. Jawaban ini sekarang menjadi tidak lagi relevan kita lulusan terbaik universitas di AS menjadi penganguran akibat perusahaan tempatnya bernaung koleps. Ini menjadi tidak lagi relevan ketika ekonom Barclay membuat ekonomi Indonesia bangkrut ditahun 1998. Ini menjadi tidak relevan bila rezim reformasi sebagai koreksi rezim orde baru limbung? Sebuah relevansi akibat kebodohan memang tidak pernah dibahas.Yang ada hanyalah excuses bahwa itu adalah hukum dari sebuah kemungkinan.

Dari berbagai asumsi yang direkayasa , para pemodal menemukan pola bermain untuk mendulang untung dari sekelompok "orang bodoh"; Para akuntan lulusan terbaik universitas berkeja untuk membuat simulasi keuangan corporate agar manarik untuk dibeli sahamnya dengan harga berapapun. Financial analysis officer bekerja dengan kehandalannya merangkai index economic growth untuk memastikan masa depan obligasi dan saham akan naik. Para lawyer bekerja dengan gigihnya merangkai settlement dari satu regulasi keregulasi lainnya agar semua follow by rule. Para banker sibuk menyiapkan berbagai product untuk mendukung asumsi. Dan terakhir negara menyaksikan semua itu dengan diam sambil tersenyum “ system berjalan dengan baik”begitu katannya. Padahal sebuah konspirasi terbentuk antara yang mengawas dan diawasi. Sehingga pasar bergerak liar seakan tanpa kendali.

Waktu berlalu dan memenggal hari. Keadaan yang direkayasa dari sekelompok orang katanya pintar itu memang berhak menndapatkan acungan jempol. Harga saham melambung, indek naik, Para akuntan, lawyer, perbankan, financial analysis mendapatkan berkah dari situasi penuh rekayasa. Pemerintahpun boleh berbangga bahwa asumsi yang dibuat terbukti sudah. Rasio ekonomi yang diwakili oleh index saham dan arus modal , rendahnya NPL dan tingginya CAR adalah bukti bahwa fundamental ekonomi kuat. Rating penguasa naik seiring naiknya ratio tersebut. Rakyat miskin terpesona kebingungan karena harga bergerak cepat meninggalkan income buruh dan petani. "Orang bodoh " berhati batu dan semakin asik terlibat menanggapinya dengan positip. Bahkan ikut terlibat dalam permainan rekayasa itu. Disinilah kebodohan terjadi secara multiflier effect. Berputar di midle class. Mengapa ? apa yang bisa diperbuat dengan asumsi bila sesuai “pesanan ?

Pesanan siapa ? Tentu dari akumulator modal ,yang memang bertujuan menjadikan “let money working for us “ sebagai cara membuat orang semakin kaya tanpa kerja keras dengan menggunakan uangnya di pasar modal dan uang. Konsep ini dibangun menjadi trend baru di era millennium. Sudah jelas visinya. Bahwa tidak ada pabrik dan pertanian harus dibangun untuk mendapatkan yield. Tidak ada. Yang ada hanyalah memancing emosi untuk terlibat dalam bsinis ilusi. Sama seperti ungkapan salah satu fund manager yang menjadi korban PHK” Andai tidak ada penguasa yang korup. Andai tidak ada pengusaha yang malas berinvestasi real. Andai tidak ada sikap follower terhadap devisa dollar. Andai tidak ada greedy dan individulisme maka tidak akan ada banjir likuidias dipasar. Tidak akan ada rekayasa financial anylisis dan financial product. Semua terjadi karena semua percaya dari sebuah illusi bahwa
let the money working for you.

Kini sebuah system kebebasan pasar yang penuh illusi menjadi makian. Para follower menjadi pecundang. Negara, Lembaga , Individu , semua yang dimanjakan oleh asumsi indah penuh illusi terjerembab. Sementara pemain modal dan akumulator modal, sebelum krisis terjadi, sudah lebih dulu berkemas dan membungkus diri dalam rekening off balance sheet. Mereka menanti untuk kembali beraksi bila semua sudah reda oleh kekuatan loyalis intelektual yang ada di parlemen dan dipemerintahan. Ada banyak pengamat ekonom loyalis dan hidup dari pesanan pemodal untuk terus meniupkan perlunya intevensi negara mengatasi krisis ini. Juga tak ketinggalan para lembaga Multilateral dibidang keuangan ikut meniupkan intervensi negara untuk kembali berhutang mengatasi krisis.

Kini tidak ada lagi hiruk pikuk tawa dan canda di financial club mewah dari para eksekutif muda dan komunitas middle class yang manja. Yang ada hanyalah menanti uluran tangan pemerintah untuk melindungi mereka dari kehancuran. Dan untuk itu kembali anggaran untuk pembangunan rakyat miskin harus dikorban lewat buy back saham yang anjlok, menggunakan dana APBN untuk mengamankan likuiditas perbankan dll.. Agar kelangsungan rezim ilusi ini tetap berjalan dalam bentuk dan cara lain. Satu fakta bahwa kebodohan yang bisa dijual dan menghasilkan yield adalah bila itu kebodohan para lulusan universitas.Walau untuk itu semakin mengikis empati kepada mereka yang miskin ilmu dan harta.

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...