Sunday, November 11, 2007

Sebuah Keindahan

Aku mencoba menahan kantuk namun akhirnya larut juga. Akupun terjaga kembali. Mungkinkah ini mimpi ketika ku tahu ada keindahan teramat lus terbentang. Seluas lautan dan selapang cakrawala. Ternyata keindahan itu hadir pada seorang istri dan suami yang soleha , sahabat yang baik , nafkah yang mudah. Tak banyak syarat untuk mencapai keindahan itu. Aku berseru kepada seseorang yang hadir disebelah sana. Dia nampak tersenyum ketika ku berkata “ Adakah bentuk lain dari kindahan. Tentang rumah mewah, mobil mewah, pangkat dan tahta berjenjang.” Dia berkerut kening. Inilah keindahan dunia yang Allah perlihatkan kepadamu. Mengapa kamu meminta lain yang tidak ada hubungannya dengan rasa dan karsa. Ini kebutuhan universal.

Anugerah Alllah itu dalam bentuk istri atau suami yang soleh. Istri yang tahu kewajibannya. Dia tampil perkasa dan anggun membela kehormatan dan harta suami. Yang selalu berdoa untuk suami. Sebagai sahabat dalam susah maupun senang. Menjadi perekat kepada keluarga suami;yang jauh mendekat dan yang dekat pun merapat. Dari rahimnya akan lahir anak yang sholeh, yang akan juga mendoakan orang tuanya dengan tulus. Dari anak yang sholeh doa di dengar dan terkabulkan. Dari anak yang sholeh , ibu dan ayah aman dimasa tuannya. Dari anak yang sholeh orang tua terhindar dari siksa neraka. Adakah kebahagiaan yang dapat menandingi istri dan anak yang sholeh ? Dapatkan harta berlimpah membayar kesedihan melihat anak meradang akibat narkoba. Akibat hamil diluar nikah. Akibat mabuk mabukan di club malam.. Akibat balapan di jalan. Camkan itu.

Suami yang sholeh adalah obor rumah tangga yang abadi menyala didalam rumah. Menerangi seisi rumah. Merasuk kedalam relung hati untuk menebarkan rasa aman dan terlindungi dari fitnah dunia. Dia tampil perkasa menembus angin badai, hujan lebat, teriknya matahari untuk memberikan nafkah yang halal. Dia hadir dalam situasi tersulit dan menjadi penyejuk seisi rumah dari teriknya kehidupan. Dari dirinya, terbentuk kepemimpian yang tawadhu, tulus penuh senyuman. Menjadikan semua keluarga besar merasa nyaman untuk bertegur safa dan bersilahturahmi. Diapun menjadi teladan untuk istri dan anak anaknya tentang ke shalehan. Tentang hakikat hidup untuk menjadi pemenang dan mulia dihadapan Allah. Inilah keindahan.

Keshalehan dari sebuah rumah tangga akan melahirkan keluarga sakinah , ma waddah dan wa rahmah. Bila keindahan ini menjadi universal, Maka kehidupan komunitas bangsa menjadi tertip. Maka tidak ada lagi pemujaan terhadap materi. Tidak ada lagi korupsi dan manipulasi. Lingkunga kecil rumah tangga sakinah, akan membentuk tetangga yang akrab. Dari tetangga yang akrab akan terbentuk lingkungan yang damai. Dari lingkungan yang damai akan lahir masyarakat madaniah. Ternyata anugerah Allah itu telah diberikan untuk kita tapi kita lupa karena kita dikaburkan tentang nilai nilai kebahagiaan. Itu semua karena pemujaan kita kepada materi. Maka kitapun larut dalam sirik social.

Aku tersentak dari mimpiku.Akupun kembali kedunia nyata. Manusia terpecah belah, berlari berhamburan mengejar tujuannya masing masing. Padahal tujuan itu sudah pasti. Yang pasti itu seharusnya menjadi universal. Aku membayangkan sebuah negeri yang bernama Indonesia dapat melihat tujuan bersama. Dapat membicarakan hal yang universal itu tanpa harus berbeda barisan dan bendera partai.. Dapatkah semua yang berbeda berbaris dengan bendera yang sama. Perbedaan itu akan menjadi perekat dan penguat bangunan yang kokoh sebagai sebuah komunitas. Kita butuh Kita butuh nasionalisme demi tegaknya agama kita. Semua saling membutuhkan bila pada akhirnya ruh agama sebagai sebuah yang universal. Yang universal itu hanyalah lahirnya masyarakat yang tangguh , yang berbasiskan rumah tangga yang sakinah, para sahabat yang tulus dan negara yang menjamin keadilan social , mencari nafkah adalah hak bagi semua orang tanpa harus ada lagi yang menadahkan tangan…Ya Rahmatan lilalamin.

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...