Thursday, December 21, 2006

Di ruang termahal..

Dalam satu perjalanan disuatu negeri, saya bersama teman mendapat kesempatan menginap di Hotel dengan tariff diatas USD 1000 per malam. Dapat dibayangkan betapa tiggi standard layanan hotel ini. Juga jangan tanya soal kemewahan didalama kamar. Semuanya serba wah. Segala impian dengan sejuta hasrat kemewahan nafsu dunia sengaja dicreate untuk memanjakan tamu yang menginap disini. Maklum saja bahwa para tamu yang datang adalah businessman yang ingin menikmati kenyamanan layanan untuk memanjakan diri. Sudah jam 11 malam , saya masih asyik bicara dengan teman di cafe dan bukan hanya kami tetapi juga para tamu hotel lainnya. Kami masih diliputi banyak pikiran tentang beban pekerjaan yang menghadang. Yang pasti ada cemas didalam hati. Saya perhatikan tamu yang lain juga mengalami hal yang sama. Buktinya mereka tidak bersegera kekamar untuk menikmati standard kamar hotel super diamond itu.

Jam dua dini hari , barulah saya undur diri dari cafe untuk berangkat tidur. Teman ini juga ikut bersama saya. Ruang cafe masih ramai oleh penghuni hotel. Petugas cafe mengatakan kepada saya bahwa jam 4 pagi cafe akan ditinggalkan semua oleh tamu hotel untuk tidur dikamarnya masing masing. Sesampai dikamar, saya langsung menjatuhkan tubuh ditempat tidur. Saya baru terjaga ketika jam 6 pagi untuk sholat subuh. Jam 7 pagi saya ketika breakfast , teman itu sudah ada di restoran. Ketika bertemu , sambil makan, kami kembali melanjutkan diskusi soal tadi malam untuk mengatur langkah strategi untuk pagi ini. Begitulah seterusnya. Mengapa saya ceritakan ini ? tak lain untuk memberikan gambaran bahwa kemewahan dengan segala layanan yang memanjakan ternyata tidak pernah kami rasakan sebagai sebuah bentuk yang menentramkan , apalagi menghilang rasa cemas akibat takut gagal dalam bisnis, takut gagal dalam mengambil keputusan dan segala rasa takut.

Semua rasa takut itu dipicu dan dirangsang oleh adanya keinginan lebih. Juga didorong oleh sikap marah kepada pesaing yang berada diatas dan ingin merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Karena itulah kerja keras dilakukan dan tanpa disadari kami telah melakukan penyiksaan diri secara sistematis. Saya berada didalam lingkungan seperti itu dari kehadiran sahabat saya yang pengusaha, pejabat negara, dosen, professional, politisi dan lain sebagainya. Saya yakin mereka tidak pernah merasakan kebahagian dalam sehari lebih dari 1 jam. Bahagia dalam pengertian dimana lepas dari segala beban dan tak tergantung sama siappun , damai dalam pengharapan, damai dalam kekurangan, damai dalam fitnah dan damai dalam keseharian. Padahal ada sebagian besar manusia yang jauh dari harta dunia namun dengan hanya USD 300 per bulan mereka bisa mendapatkan kebahagiaan, candatawa bersama sahabat yang setia, anak istri yang sholeh, beribadah dengan lapang waktu.

Data statistik hanya mengukur kemakmuran dari harta. Mereka yang miskin kebahagiaan , miskin cinta namun harta berlebih akan masuk kelompok makmur. Padahal merekalah yang sebenar benarnya miskin karena hidup mereka tidak mereka miliki. Hidup mereka disiksa oleh dirinya sendiri. Dari berbagai orang inilah saya mendapatkan hikmah untuk bersikap dalam hidup. Bahwa kebahagiaan itu hanya mungkin bila kita bisa mengelola ”keinginan ” dan dorongan ” berkompetisi” secara berlebihan. Tak ada cara efektif mengelola kecuali menunduk diri kita sendiri terhadap hasrat yang berlebihan itu. Ketika kita bisa mengalahkan diri kita sendiri maka banyak hal yang justru tidak perlu mahal dan kadang sangat sepele bisa membuat kita bahagia.

Sebuah riwayat dalam Hadith , dua hal yang membinasakan manusia itu, adalah keinginan yang berlebihan dan kedengkian ( merasa lebih baik dari orang lain ). Karena kedengkian inilah Iblis dilaknat sehingga menjadi terkutuk. Karena keinginan yang berlebih itu pula , Adam dan Hawa tergoda untuk memakan buah qalbi. Ya , manusia binasa ketika dia dikuasai oleh dua hal itu. Maka yang namanya binasa maka kebahagiaan menjadi sangat jauh. Kalaupun ingin digapai maka manusia harus berkerja keras dengan all at cost untuk mendapatkannya namun hanya melihat fotomorgana. Semakin dikejar kebahagiaan semakin jauh diraih. Akibatnya berbagai penyakit phisik datang dan rasa takut semakin lekat dalam diri maka kebahagian semakin tak terjangkau. Kita menumpang tawa ditempat ramai dan menangis diatas lumbung padi karena lapar.

Kebahagiaan itu ada dihati dan teramat dekat dengan diri kita bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Untuk menggapainya tak diperlukan ongkos mahal dan berlelah. Cukuplah bersyukur atas nikmat Allah dengan menebarkan cinta dan kasih sayang kepada mereka yang tidak beruntung atau yakin bahwa harta itu milik Allah dan digunakan untuk beribadah kepada Allah. Dan Bila terkena musibah maka bersabarlah. Sikap inilah , dalam kondisi apapun, maka kebahagiaan akan selalu menjadi milik kita. Karena kita melangkah hanya untuk mencari ridho Allah bukan rasa hormat atau pujian dari manusia.

No comments:

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...