Tuesday, May 23, 2006

Demi keadilan...

Ada seorang teman yang punya masalah hukum karena dilaporkan oleh mantan karyawannya ke polisi. Teman ini , sebagai pengusaha telah lalai terhadap hak hak karyawannya ketika mem PHK. Saya sarankan agar teman ini memenuhi gugatan karyawannya dan menyelesaikan itu dihadapan hakim. Tapi , apa jawabannya. Daripada saya kasih dia uang lebih baik saya kasih uang ke polisi , hakim dan pengacaranya. Polisi ,hakim dan pengacaranya kan butuh urang. Mereka tidak peduli dengan karyawan itu. Mereka hanya peduli bagaimana saya dapat memberi mereka uang dari kasus ini. Selesai sudah urusan. Mengapa ? tanya saya. Jawabannya, sekali saya turuni tuntutan karyawan itu maka selanjutnya saya akan dicap lemah orang karyawan lain. Dan ini bahaya. Karena besok besok akan banyak karyawan yang akan menuntut saya. Begitulah. Bagaimana para elite mengajarkan kepada para pengusaha atau mereka yang kuat ditengah masyarkat untuk mempermainkan keadilan dan menindas rakyat.

Dizaman Rasul datganglah utusan kaum Qurais bernama Usamah bin Zaid yang ditugaskan oleh bangsawan Qurais untuk meloby rasulullah agar hukum mencuri bagi wanita bangsawan Quraisy dari Bani Makhzumiyah itu ditiadakan. Hal ini demi menjaga reputasi kaum qurais yang sangat dihormati oleh bangsawan Arab. Mau tahu jawaban Rasul "Sesungguhnya hancur binasa bangsa-bangsa sebelum kamu disebabkan, bila yang mencuri datang dari kalangan kaum elite, mereka biarkan tanpa diambil tindakan apa pun. Tetapi, bila yang mencuri datang dari orang-orang lemah, segera mereka ambil tindakan. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, akan aku potong tangannya." (HR Muttafaq 'alaih). Nabi yang dalam posisi sebagai pemimpin besar ketika itu tampil diatas podium dan berkata dengan tegas demi keadilan , andai putrinya sendiri melakukan pencurian maka hukum tetap akan ditegakkan tanpa pandang bulu.

Nabi mengungkapkan fakta tentang kaum kaum sebelumnya yang hancur karena kaum elite mencuri/korupsi tapi tidak diadili sementara bila orang kebanyakan akan mudah sekali hukum diterapkan. Sejarah adalah fakta membelajaran. Nabi diajarkan oleh Allah lewat sejarah kaum sebelumnya. Al-Quran pun bertutur kebanyakan tentang sejarah umat yang dilaknati oleh Allah. Ini sebagai pembelajaran yang mudah dipahami agar kita tidak terjebak melakukan hal yang sama. Pertanyaan mendasar adalah mengapa keadilan itu harus ditegakkan kepada kaum elite lebih dulu. Mengapa hancurnya bangsa karena elite nya ? ya, karena pengendalian umat adalah keteladanan para elite. Bila elitenya baik maka baiklah umat itu. Islam adalah project sosial Rasul yang diamanahkan oleh Allah untuk memperbaiki akhlak manusia dan Rasul adalah teladan terbaik soal itu.. Kekuatan terjadinya perubahan akhlak itu berada ditangan para elite bangsa.

Hukum Allah sangat adil Hukum yang berlaku bagi siapa saja. Kaya atau miskin, pria atau wanita. Penguasa atau rakyat jelata. Orang bodoh atau orang pintar. Hukum tetap hukum dan dihadapan hukum adalah sama. Inilah yang harus diteladankan oleh para elite. Namun dalam keseharian yang kita tahu tentang negeri ini. Keteladanan itu mahal sekali. Hampir sulit kita dengar ada elite yang berani menindak keluarganya sendiri bila melanggar hukum Bahkan para elite itu menggunakan jaringan pengaruhnya untuk mempengaruhi jalannya persidangan. Yang salah menjadi benar, yang benar dikaburkan dan keadilan diijjak injak. Itu semua dipetontonkan didepan publik lewat media massa. Rakyat banyak tahu , mungkin kesal , marah. Tapi tanpa kita sadari kitapun lambat laut terjebak pula dalam sikap seperti itu. Bila kita ada kasus kita sibuk melobi para elite agar kita terhindar dalam hukuman.

Benar benar terjadi multiflier effect kesemua sendi kehidupan bila para elite mempermainkan hukum dan keadilan. Masyarakat yang terbangun adalah masyarakat yang apatis soal keadilan. Suka menindas dan mencari kekuatan untuk menzolimi orang lain. Sulit kita temukan ada kata damai bila berhadapan dengan orang lebih kuat. Kita marah atau diam, sama saja teraniayanya. Marah , akan dihukum, diam akan terinjak. Lihat dalam kenyataan dikeseharian kita, yang kuat otot menindas yang lemah dijalanan, yang kuat modal menindas yang tak bermodal, yang pintar menindas yang bodoh, yang tahu hukum mempermainkan mereka yang buta hukum. Semua karena akibat para elite mengajarkan kepada publik bagaimana hukum bisa dibeli dan ditawar tawar. Sungguh budaya yang menggiring kepada kehancuran peradaban yang dirahmati Allah.

No comments:

Magic Word

  Waktu saya pergi merantau. Setiap bulan pasti surat ibu saya datang. Walau saya tidak kuliah. Pekerjaan tidak tetap. Tetapi tidak pernah i...