Saturday, February 25, 2006

Harta Ex Kesultanan

Pada tahun 1996, saya berkenalan dengan kisah yang sulit saya terima dengan akal sehat namun sulit pula untuk saya abaikan begitu saja. Mereka yang datang kepada saya bercerita dengan begitu bersemangat. Bahkan cerita itu dilengkapi dengan berbagai dokumen pendukung untuk sekedar ingin membuktikan kisah itu benar adanya. Saya masih sulit untuk menerima kebenaran itu. Walau saya tahu mereka yang bercerita kepada saya itu bukanlah orang gila. Mereka semua waras. Namun, yang pasti semua mereka yang bercerita itu, dengan membawa dokumen dokumen itu, hampir semua adalah pengacara alias pengangguran banyak acara. Tentu mereka juga bukan hanya banyak acara untuk bertemu dengan banyak orang di loby loby hotel berbintang tapi juga banyak impian.

Kisah apakah yang saya maksud itu ? Ini kisah tentang harta amanah. Menurut cerita , bahwa ada harta berupa emas yang merupakan milik dari kesultanan tempo dulu. Harta ini ditempatkan di bank bank di Eropa seperti UBS, HSBC, Barclay. Menurut cerita , setelah Indonesia merdeka, para keluarga kesultanan menitipkan harta ini kepada Soekarno sebagai amanah untuk digunakan bagi rakyat Indonesia. Soekarno menerima amanah itu dan kemudian cerita berkembang sampai terjadi penunjukan mandat kepada Soewarno, Sarinah, Saifudin Malik dan lain lian. Kembali saya ingatkan bahwa ini bukan hanya sekedar kisah seperti dongeng tapi kisah yang diformalkan dengan bukti berbagai dokmen resmi (?). Soal jumlah harta ini, jangan dibayangkan berapa banyaknya. Yang pasti akan membuat orang awam pasti bermimpi. Apalagi kisah itu kadang dibumbui bahwa harta itu akan dibagikan kepada seluruh rakyat Indonesia.

Kisah ini berdentang di Indonesia namun gaungnya sampai ke seluruh dunia. Hebat,kan!. Benarkah harta ini ada ?benarkah ini true story ? Saya pernah bertemu dengan banker dari Belanda. Dia mengatakan kisah itu tidak seratus persen benar. Artinya ada unsur kebenaran, walau kecil sekali. Apa kebenaran itu ? Bahwa harta itu memang pernah terdaftar di Bank Bank di Eropa di abad 17. Maklum dulu para sultan mendapat upeti dari Belanda dan kemudian menitipkan harta berupa emas itu di bank bank di Eropa. Jadi kira kira mungkin tidak jauh beda dengan era sekarang, para pejabat korup menempatkan dananya di luar negeri demi keselamatan keluarganya bila terjadi chaos. Dari eksistensi harta dan kisah inilah, terjadi perburuan dokumen harta ini oleh pihak pihak yang bermain di wilayah trustee. Dokumen ini diperlukan mereka sebagai underlying transaksi penempatan dana di wilayah trustee.Maklum saja bahwa hukum trustee berlaku sampai 600 tahun. Artinya harta itu masih legitimate sampai sekarang.

Lantas kalau benar harta ini masih legitimate , mengapa tidak bisa dicairkan oleh para ahli waris ? Jawabnya sederhana yaitu akibat perang dunia. Hukum perang mengenal ”You win you take all ”. Ketika perang dunia pertama , Jerman sebagai pemenang perang dan harta di bank bank di Eropa diambil alih oleh german. Ketika perang Dunia kedua, Amerika sebagai pemenang dan harta diambil alih oleh Amerika. Jadi secara phisik , harta itu sudah tidak ada lagi di Bank bank di Eropa. Makanya tak bisa dicairkan. Namun oleh pemain uang diwilayah trustee , dokumen harta ini diburu untuk dipakai dalam operasi money loundry. Semua operasi money loundry ( Mirror Asset ) ini berakhir kepada fraud dengan modus penipuan yang begitu panjang daftar korbannya.

Mungkin karena krisis ekonomi dan uang semakin sulit , banyak phk, banyak usaha yang tutup, beredar pula bisnis yang menawarkan penggunaan asset ini sebagai collateral untuk mendapatkan kredit dari bank. Mereka menawarkan harta amanah ini dalam bentuk lembaran dokumen dari bank bank di Eropa seperti UBS, HSBC , ABN AMRO, Barclay, Citibank, dan lain lain. Ada juga melampirkan dokumen dari euroclear yang memuat bukti eksistensi asset ini. Ada juga menunjukan bahwa dokumen itu dilengkapi dengan Code dari IMF dan world Bank, CUSIP dan ISIN. Kalau saya perhatikan dokumen itu , rasanya ingin tertawa. Mereka yang mencoba meng create dokumen ini memang targetnya adalah menipu masyarakat yang awam dengan istilah perbankan Interntional.

Dokumen itu menyebutkan collateral dari Bank di Eropa dengan adanya tertera code CUSIP atau Committee on Uniform Security Identification yang merupakan idetifikasi kode ( 9 digit) untuk surat berharga yang hanya diterbitkan di AS. Sistem ini dimiliki oleh American Bankers Association. Jadi, dokumen bank di Eropa tapi code nya dari Amerika. Lucu , kan.! Kalau international code namanya ISIN ( International Securities Identification Number ) dan ini hanya berlaku untuk commercial paper, Bonds, Equities, Warrants dan tidak ada instrument bank dengan ISIN atau CUSIP. World bank maupun IMF tidak terlibat dalam code apapun yang berhubungan dengan instrument bank ( BG/SBLC/CD/Proof of fund). Satu lagi bahwa Euroclear tidak pernah me register Banking product seperti CD/BG/SBLC kecuali Bond. Jadi, bagi orang yang memahami perbankan international memang menggelikan kalau melihat dokumen yang beredar. Tapi anehnya begitu banyak orang percaya dan tergoda untuk ditipu.

Tahun 1975 sejak AS melepas emas sebagai jaminan mata uang dollar maka sejak itu tidak dikenal lagi warkat bank berbasis emas. Sejak tahun 1998, di Eropa, diberlakukan scripless banking product ( tanpa warkat dan tanpa tanda tangan ). Tahun 2002, berlaku diseluruh dunia. Rrtiya tidak ada lagi surat berharga bank dalam bentuk kertas berlogo dan tanda tangan. Semua sudah dalam bentuk print out computer. UBS yang sekarang kita kenal bukanlah UBS seperti tahun sebelum 1998. UBS yang dulu bernama UNION Bank of Swizerland. karena terlilit kesulitan keuangan maka tahun 1998 di merger dengan Swiss bank Corporation ( SBC). Hasil merger ini berganti nama menjadi UNITED BANK OF SWITZERLAND ( ubs). HSBC holding PLC pernah di bail out pada tahun 1998 ketika krisis global oleh China Jadi kalaulah benar pada bank bank itu ada harta super raksasa tentu tidak mungkin mereka dililit masalah keuangan. Ya, kan.

Saya yakin kisah ini tak akan padam dinegeri ini. Akan terus bergulir dimasa masa akan datang, dengan berbagai modus , yang pada akhirnnya menambah deretan korban penipuan. Inilah penyakit kebudayaan kita yang masih hidup dalam impian dan selalu menghindar dari kenyataan , bahwa tidak ada yang too good to be true. Semua harus diperjuangkan. Harta Indonesia berupa SDA sangat besar nilainya. Dan itu sudah tersedia. Kita hanya ditugaskan untuk banyak belajar dan bekerja keras. Jadi , stop melukis diawang awang, stop memancing dikolam yang tak ada ikannya.

8 comments:

Anonymous said...

saya pribadi telah melihat tumpukan emas batangan, ub,peru,us 34 dan banyak lagi barang2 yang sangat berharga lainnya dalam jumlah yang banyak, saya lihat sertifikatnya,saya lihat barangnya, baik logam mulia,maupun uang dalam jumlah yang fantastis,mereka yang menjaganya cuman bilang mereka cuma disuruh menjaga saja, sampai waktu yang ditentukan tiba (?).
yang konyolnya mereka yang menjaga ini kehidupan mereka jauh dari makmur malah boleh dibilang miskin, pernah suatu saat teman membawa 3 batang logam mulia (1emas,2platinum),sampai dijakarta dites di toko emas singgalang, mereka bilang emasnya murni 99.99 dan platinumnya cuman mengandung platinum 20%,emas & platinumnya tidak dijual tapi dibawa kembali ke tempat orang tua tersebut, teman tersebut diajak kesebuah gua diatas bukit dekat pingir telaga, entah dari mana tiba2 batu2 itu bergeser dan dibelakangnya ada pintu gua yang kecil, didalam gua tidak ada apa2, si bapak tua baca2 mantra kemudian gua itu jadi begitu luas dengan lemari,peti-peti kayu jati berukuran jumbo ( tempat meletakan emas serta barang berharga lainnya),setelah emas & platinum diletakan, orang tua baca mantra, semua kembali menutup, dan yang konyolnya telaga yang tadinya ada dibawah bukit ternyata adalah hutan lebat.yang parahnya ada orang kaya yang sampai bangrut untuk mencairkan ub dan hasilnya NOL BESAR.trus yang bikin heran buat apa harta sebanyak itu dibiarkan ngangur sementara rakyat mati kelaparan....

Anonymous said...

asset itu masih ada dan masih berpengaruh kepada negara ini, contoh, IMF "menawarkan" hutang kepada indonesia, belum lunas pun hutang sebelumnya masih ditawari lagi, ada apa dibalik semua ini? Kalo saya menawarkan hutang kepada anda, toh saya harus tau anda bisa membayarnya.
Satu contoh lagi tidak ada negara Industri besar yang berani melakukan konfrontasi kepada Indonesia, ada apa?

Anonymous said...

semua cerita itu bukan isapan jempol semata.....tetapi blm waktunya untuk keluar selama negara ini masih dalam lilitan para koruptor.....tidak hilang....karena sudah diputuskan melalui proses International Court di Belanda....tunggu tanggal mainnya..

Anonymous said...

Saya membaca Blog Pak Eri, pertanyaan logis saya terjawab sudah bahwa harta itu ada dan menjadi tidak ada karena perang dunia pertama dan kedua. YOU WIN YOU TAKE ALL. Semua sadar bahaw perang bertujuan untuk mendapatkan harta.

Era sekarang , perang phisik bukanlah tujuan strategis untuk menguasai negara lain. Negara kaya dapat menguasai negara lain dalam bentuk ekonomi. Nah mental bangsa yang doyan mimpi tentang masa lalu dan engga pernah sadar tentang kekalahannya adalah bangsa yang mudah dijajah secara ekonomi.

KIta harus bangkit dari kekalahan masalalu. Dari kebobrokan masa lalu. Karena sudah cukup para sultan tempo dulu larikan harta keluar negeri dan ahirnya orang lain yang bebas menjarah. Saat kini kita harus mengawal amanah kemerdekaan dengan banyak belajar , bekerja keras dan memperkuat kebersamaan, memperkuat akhlak agar nusantara yang kaya raya ini dapat diolah untuk kejayaan ibu pertiwi.

Dari tulisan blog BUng Eri, saya dicerahkan untuk tak lagi tertipu dengan mimpi mimpi yang dibawa oleh orang yang mengaku amanah tapi sebetulnya pengangguran intelek yang sengaja menipu emosi orang untuk cepat makmur tanpa kerja keras...

Anonymous said...

saya juga pernah melihat surat2 berharga yg asli, ada berupa certifikat deposito, berton ton emas dan sebagainya, jadi ngiler deh jadinya, mudah mudahan bisa dicairkan oleh yg berhak dan dimanfaatkan buat kepentingan rakyat indonesia. Tapi saya yakin dana ini bakal cair setelah indonesia berhasil menyandang gelar sebagai negara yg bebas dari budaya korupsi. Setuju kan??

Anonymous said...

Menurut saya , cerita tentang asset amanah dan berbagai dokumen yagn beredar, tak lebih adalah pembodohan bangsa. Karena latar pendidikan bangsa ini sangat minim soal hukum internatioanl ,soal perbankan international maka mudah sekali dibawa kealam mimpi soal harta amanah. Ini tak lebih adalah penipuan. Titik. Tulisan bung eri sudah jelas , logis tapi kita masih buta untuk melihat kenyataan. Bahwa amanah tak terhingga bagi bangsa ini adalah Emas jutaan ton di Freeport. Triliunan dollar di hutan kalimantan, sumatera. Ikan di laut indonesia timur. Tapi itu semua harus dengan ilmu dan kerja keras, Bukannya mimpi mengharapkan emas dalam brangkas. Bnagsa ini tetap akan terus terpuruk selagi mental kita masih mental mimpi megnharapkan emas dalam brangkas diantah brantah. Ya harus kerja dan kerjaa.

Unknown said...

kita tidak boleh terbawa mimpi yang mungkin tidak kita ketahui, tapi kita sebagai penerus bangsa ini jangan hanya berharap dari yang belum kita pelajari..oleh karena itu pelajari dahulu benar2 tentang sejarah bangsa ini, barulah kita berpikir dan bertindak untuk kemakmuran bangsa ini.
lihatlah apa yang ada di depan kita dan pelajarilah sejarah bangsa ini dengan sepenuh jiwa kita, bangunlah bangsa kita ini dengan ilmu yang kita miliki....
wasalam

haris said...

Assalamu’alaikum wr.wb.
Institusi Kami berdasarkan Lisensi Federal Reserve memiliki kemampuan dan bersedia bekerjasama untuk mengelola Asset Amanah Indonesia dalam High Yield Investment Program.
Program ini akan memberikan Keuntungan setiap minggu/bulan tanpa adanya “resiko dan kerugian” apapun baik terhadap Pemilik maupun Asset itu sendiri.
Bagi Pemegang atau yang mengetahui Asset/Dana Amanah tsb. saya menawarkan Kerjasama untuk mengelola asset amanah dalam Program kami.
Mari wujudkan kebenaran dan impian masa depan Indonesia melalui asset amanah dalam kebenaran dan kepastian Program Kami.

Wassalam’
Haris Hedar (harishedar@gmail.com)

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...