Saturday, January 21, 2006

Pembajakan hak.?

Mungkin Negara yang paling besar melakukan peniruan dan pembajakan hak patent adalah china. Awalnya tekanan masyarakat international agar china peduli akan hak hak intelektual disikapi dengan acuh. Namun akhirnya , china terpaksa tunduk dengan tekanan tersebut , seraya berkata “ Walaupun kami telah meratifikasi UU tentang property Right dan Patent (TRIPs :Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights). namun kami tidak bisa menjamin UU ini akan efektif menghentikan pemalsuan dan pelanggaran hak cipta” . Mengapa ? Apapun yang dilarang di china akan disikapi sebagai peluang Karena pandangan bagi kebanyak orang china bahwa setiap yang dilarang akan mengurangi kompetisi maka larangan tersebut bukannya menghentikan pemalsuan, malah menyuburkan.

Berkali kali pengerebekan dilakukan oleh aparat hokum bagi yang ketahuan melanggar namun disikapi oleh pabrikan china dengan biasa saja. Hukuman yang diterapkan tidak lebih hanyalah penyitaan barang. Hari berikutnya pabrik itu akan kembali dengan produksinya. Mungkin bagi masyarakat china , tidak ada pelanggaran yang ditakuti selain produk yang mendukung propaganda anti komunis. Untuk ini , pelakunya akan langsung dihabisi tanpa kecuali.

Kelangsungan produksi pemalsuan, pelanggaran hak cipta telah merambah hampir disemua jenis produk. Dari industri pakaian ,consumer goods, otomotive sampai pada product high technology. Keadaan ini sangat membuat geram para pemilik paten. Tapi china keliatannya tidak peduli. Sebetulnya ini kembali lagi soal budaya. Bagi orang china harga barang diukur dari seberapa besar biaya yang dikeluarkan dengan mempertimbangkan margin yang diinginkan. Pasar china tidak pernah membeli karena merek tapi karena kebutuhan. Kita bisa melihat bahwa sebagian besar konsumen produk palsu dan hasil pembajakan merek ini adalah orang asing sendiri. Mereka membeli produk tersebut untuk dijual kembali dinegaranya karena harganya murah. Juga adalah mereka yang datang dari jaringan pemasok pabrikan pabrikan yang ada dinegara lain. Produsen akhir yang ada di Negara tersebut merasa diuntungkan dengan dukungan pasokan barang yang murah dan berkualitas.

Apakah china harus disalahkan atas perilaku yang merampas hak kekayaan intelektual dari semua Negara Negara maju didunia ini , yang tentu membutuhkan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit untuk menemukannya. Barangkali. Namun Negara Negara lain harus mau mengintropeksi dirinya sendiri. China hanya bertindak seperti yang dilakukan bangsa bangsa lain ketika dihadapkan pada peluang untuk meningkatkan kekayaan dan kekuatannya. Sejauhn ini pencurian kekayaan intelektual mendatangkan kerugian yang kecil dibandingkan keuntungan yang didapat.

Selain itu ratusan miliar dollar dalam bentuk investasi asing kenegara itu telah memungkinkan technology terbaik dunia tersedia dengan mudah bagi para pelanggar hak dichina. Dengan menanamkan investasi dalam infrastructure produksi Negara itu , dengan menyediakan tenaga akhli, mesin dan perangkat lunak yang dibutuhkan china untuk menghasilkan produk kelas dunia, dunia juga membantu dalam menciptakan kawasan produksi illegal yang terbesar, tercanggih dan tersukses di dunia.

Jadi, ketika investor investor asing mempertaruhkan kemakmuran mereka di china, mereka juga mendorong china keposisi yang memungkinkan Negara itu dapat berperan sebagai pembuat peraturan. Pada masa mendatang , dan tida berapa lama lagi, ketika china sudah menyamai pasar pasar terbesar di dunia, termasuk diantaranya produsen produsen yang paling maju dan paling subur didunia, Negara itu mungkin akan mempunyai produk bermerek , industri hiburan dam technology yang menentukan standard dunia.

Yang pasti , ada dendam masa lalu bagi china yang pernah terjajah dan merebut kekuatan dengan mencuri kekayaan orang asing tidak melahirkan banyak penyesalan .. Dan memang ditengah ketidak adilan global , cara china dapat dipahami sebagaimana kata pejabat tinggi china “ Kami hanya berpikir bagaimana memberikan makan untuk rakyat kami dan mendorong pertumbuhan ekonomi ditengah kompetisi global yang tidak pernah memikirkan hak hak rakyat banyak untuk makmur, kecuali hak pemilik merek.” Seakan mereka mentertawakan sikap Pemerintah Indonesia yang patuh terhadap tuntutan asing namun tidak mendapatkan apa apa dari asing kecuali penghinaan dan janji kosong...

No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...