Wednesday, March 11, 2015

Jangan pesimis..

Saya menikah usia 22 tahun. Ketika itu saya tidak punya pekerjaan tetap. Kuliah juga belum selesai.Tidak ada tabungan. Tidak ada asuransi. Jadi benar benar saya menghadang resiko. Apa itu? Bila uang untuk sewa rumah saja tidak ada , setelah kawin dimana saya mau tinggal ? Bila asuransi saja tidak ada, kalau anak lahir darimana saya membayar biaya rumah sakit . Kalau terjadi apa apa , apa yang harus saya lakukan bila tabungan saja tidak ada. Bagaimana saya bisa menyelesaikan kuliah saya, dengan beban istri bersama saya …dan terakhir bagaimana bisa meyakinkan secara akal sehat kepada istri bahwa hidup akan aman aman saja walau tidak ada jaminan income. Sementara sebagian besar teman dan kerabat menasehati saya dengan analisa future yang sangat mengerikan.Bahwa rumah tangga saya akan hancur bila tidak ada penghasilan. Masa depan akan hancur bila tidak selesai kuliah.Dan banyak lagi.Tapi saya tidak peduli. Ketika layar terkembang, pantang surut kebelakang.No way return! Apa modal saya ? 1.Restu orang tua.2.Iman.  Berjalannya waktu , semua bayangan menakutkan itu, tidak terjadi. Saya dan istri baik baik saja. Sementara teman yang ahli  merencanakan kapan harus menikah dengan sederet pra kondisi, harus selesai kuliah, harus kerja, harus punya rumah , harus mapan, kini diusia diatas 50 tahun masih mencemaskan putranya yang masih sekolah atau kuliah, masih bingung menyiapkan tabungan masa tua, dan lain sebagainya. Sementara saya diusia setengah abad ini, engga lagi direpotkan dengan itu semua. Alhamdulilah satu putra saya telah menikah dan memberi saya dua cucu hebat. Insha Allah, tahun ini sibungsu akan menyelesaikan kuliah kedokterannya dan menikah. Tenaga saya masih kuat karena belum usia pension, dan berharap menggunakan sisa umur ini untuk kegiatan sosial.

Tahun 1996  kurs Rp.2300/1 USD dan tahun 1998 atau dua tahun kemudian menjadi diatas Rp.10 ribu. Krisis moneter melanda republic ini.  Banyak teman kehilangan pekerjaan dan usahanya bangkrut. Kalau tadinya mereka menjadi middle class berkarir diperbankan atau punya pabrik ,dengan kejadian krismon itu class mereka jatuh. Saya perhatikan , ada teman yang frustrasi dan selalu meratapi keadaan, akhirnnya hidupnya hancur. Ada yang meninggal karena serangan jantung. Ada juga yang terlalu banyak rencana tapi tidak berbuat apapun karena takut uang pesangon atau sisa modal habis.  Akhirnya uang pesangon atau modal habis dimakan dan mereka depresi. Rumah tangga hancur dan mereka kehilangan potensi. Tapi ada yang ketika musibah terjadi, langsung berbuat dengan uang pesangon atau modal yang tersisa. Mereka langsung merubah gaya hidupnya. Mereka  ambil resiko untuk keluar dari masalah.Dengan cara berbuat. Apa yang terjadi kemudian?. Sebagian kini jadi pengusaha sukses dibidang perkebunan, perikanan. Ada yang bisa eksport hampir Rp 1 trilun ikan tuna ke Jepang. Ada yang punya ribuan hektar kebun  Sawit dan tambang batu bara. Dan  ada yang langsung namanya masuk dalam urutan orang terkaya di Indonesia karena kepiawaianya sebagai consultant shadow banking untuk membeli asset yang dikuasai BPPN.  Bahkan ada yang tadinya hanya distributor barang import ,kini punya pabrik di China , Vietnam. Saya bertemu dengan banyak orang Indonesia yang punya usaha di China, sebagian besar meraka adalah alumni korban Krismon 1998. Mereka kaya raya dan sukses.

Mengapa saya ceritakan diatas?  Semua manusia punya kesempatan sama. Allah maha adil akan itu. Lantas mengapa ada yang beda nasipnya. Ada yang  kaya dan ada yang miskin. Ada yang kalah dan  ada yang menang. Ada yang sukses dan ada yang gagal. Selalu bersanding antara nasip baik dan buruk. Mengapa ? ternyata bukan karena kehebatan ilmu, bukan karena harta berlebih, bukan karena kesempurnaan tubuh,bukan karena banyak zikir. Bukan !. Tapi mindset.  Cara berpikir.! Itulah yang membedakan nasip orang satu dengan yang lain. Orang yang pesimis selalu menghitung masalah yang ada  dan membayangkan masalah yang belum ada. Dia selalu jadi pecundang. Apapun yang dia lakukan tetap akan menjadikannya pecundang. Baik dari sisi spiritual maupun dari sisi social. Mengapa ? Karena dia bukan penyelesai masalah tapi bagian dari masalah itu sendiri. Sikap paranoid melekat erat kepada orang yang pesimis.  Optimism is the most important human trait, because it allows us to evolve our ideas, to improve our situation, and to hope for a better tomorrowBanyak orang punya titel berlapis, punya harta berlebih dari warisan keluarga namun akhirnya semua hilang  dan dia meradang seumur hidup menyesali yang telah terjadi dan membayangkan buruk yang akan terjadi. Orang yang bernasip baik adalah orang yang mau menerima nasip buruk dan melewatinya dengan tegar.! Ya..Orang pesimis melihat kesulitan dalam setiap peluang. Orang optimis melihat peluang disetiap ada kesulitan.

Dengar lah nasehat Ali Bin Abi Thalib “ Bukanlah kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutanlah yang membuat kita sulit. Karena itu, jangan pernah mencoba untuk menyerah, dan jangan pernah menyerah untuk mencoba. Maka jangan katakan kepada Allah bawa kita punya masalah, tapi berkatalah kepada masalah bahwa kita punya Allah SWT. Yang Maha Segalanya” Ya, Ingat ketika awal menikah saya tanya sama istri mengapa dia berani hidup bersama dengan saya. Dia optimis  Allah akan menolongnya sepanjang dia yakin dengan suaminya. Keyakinan atau optimisme inilah yang membuat sesulit apapun keadaan, akan selalu bersama sama mengatasinya, tanpa saling menyalahkan atau mengeluh tak berkesudahan. Baik rumah tangga maupun kehidupan bermasyarakat, bernegara, sikap optimis inilah sebagai modal untuk membuat nothing is impossible. Waktu menikah saya tidak mungkin punya rumah karena tida ada tabungan, setelah menikah Allah beri saya rumah. Saya tidak mungkin bisa punya kendaraan karena saya tidak bisa setir dan engga ada income pasti tapi Allah beri saya kendaran dan supir. Saya tidak mungkin mapan karena tidak pumya pekerjaan tetap, tapi Allah beri saya sumber pekerjaan untuk memberi orang lain pekerjaan. Kehidupan saya mengajarkan dengan pasti bahwa nothing is impossible..tidak ada yang tidak mungkin asalkan anda tidak meliat kesulitan pada setiap kesempatan namun melihat kesempatan pada setiap kesulitan.Yakinlah !

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...