Wednesday, December 07, 2011

Bersahadat...


Terus terang saya malu sekali karena dia tak punya alasan untuk mengagumi saya. Syahadat usia dini tidak mengarahkan saya menjadi humanis yang berarti. Sewaktu saya tanya tentang inti filosofinya, Samanta hanya menjawab, ”Untuk membahagiakan orang lain.” Sebuah filosofi yang melawan sifat mementingkan diri sendiri. Demikian buya Safie Maarif bertutur dalam tulisannya di Kompas. Ungkapan itu disampaikannya kepada Dr Achyuta Samanta yang dikenal sebagai the Poorest of the Poor, Nabi kaum miskin dari yang termiskin. Semua tahu bahwa buya Safie Maarif mantan ketua Umum Muhammadiah yang dikenal Ormas terbesar di Indonesia yang mengabdikan diri untuk kemanusiaan dibidang pendidikan, kesehatan, panti asuhan. Namun bagaimanapun kehebatan gerakan Muhammadiah tetap membuat Safie Maarif menaruh hormat dan merasa rendah dihadapan pejuang kemanusiaan Dr Achyuta Samanta.

Betapa tidak? Achyuta Samanta, menggeluti perjuangan selama 20 tahun untuk orang miskin diantara yang miskin itu. Dia melepaskan jabatan dosen dan menggunakan ilmunya untuk berbaur dengan orang mskin dan berbuat untuk mereka. Selama dua puluh tahun, dia berhasil membuat project bernilai ratusan juta dollar , bukan untuk dirinya dan tidak diwariskan kepada keluarganya, tapi untuk orang miksin. Sikap dan perbuatannya menyatu dengan pribadinya yang rendah hati, Demikian yang dirasakan oleh Buya Safie Maarif ketika kali pertama bertemu dengan Dr Achyuta Samanta di kota Bhubaneswar, Negara Bagian Orissa, India. Dia memang panta disebut sebagai pejuang pembebas dari ketertindasan: kasta, ekonomi, pendidikan, sosial, dan politik. Melihat Samanta , mengingatkan tentang almarhum Madam Teresa yang mengabdikan umurnya membela kaum duafa di pusat kota Bombay.

Tapi keiklasan berkorban juga dilakukan oleh mereka yang kaya raya. Seperti Angelina Jolie yang mengabdikan populartisnya sebagai artis untuk membantu rakyat teraniaya akibat perang. Menjadi duta keliling bagi UNHCR. Bukan hanya dari kegiatan melepas harta dan waktunya untuk orang miskin tapi juga membagi jiwanya dengan mengadopsi anak anak yang terlantar dari Negara miskin. Juga ada Bill Gate yang melepas 6/10 dari total hartanya yang diperkirakan mencapai USD 59 miliar dan Warren Baffet sang portfolio investment jenius dari AS yang menghibahkan 6/10 dari USD 52 miliar hartanya. Lakshimi Mittal, jutawan baja dari india yang menyumbangkan 6/10 dari total hartanya. Carlos Slim Helu dari Meksiko yang menyumbangkan 9/10 dari USD 67,8 miliar hartanya. Mereka kaya raya namun dengan hartanya tidak membuat mereka berjarak dengan orang miskin, dan berkorban untuk itu.

Tentu di Indonesia atau umat islam dibelahan dunia lain, juga berbuat hal yang sama untuk kemanusiaan walau tidak diberitakan secara luas. Namun ada juga kita melihat kenyataan yang kadang membua kita miris. Bahwa bukan rahasia lagi bila banyak pengurus Ormas social / Yayasan , entah itu Pendidikan seperti Ponpes, Panti Asuhan, Kesehatan, Pendidikan. Hidup mereka bergelimang dengan kemewahan. Kegiatan social dibuatnya dan pada waktu bersama mereka juga menumpang hidup dari kegiatan social itu. Bahkan ada yang hidup makmur karena itu. Bahkan Dai yang sering berkotbah didepan kamera televise dan popular maka apapun dikomersialkan , termasuk menulis buku, mendapatkan fee dari program umroh bersama Dai. Kalau mereka aktifis politik utuk syiar islam, maka lihatlah gaya mereka ketika terpilih sebagai anggota dewan atau Menteri. Bahkan Partainya memilih hotel termewah didunia sebagai tempat Muktamar.Sangat jauh dari gaya orang miskin. Kalau gaya berbeda dengan orang miskin bagaimana hati akan mendekat ?

Dari pengusaha kaya raya muslim Indonesia, kita lihat ada yang berhasil mengambil alih jaringan retail modern namun pengaruhnya membuatnya banyak usaha kelas rumahan terpuruk karena gagal bersaing oleh gerai raksasanya. Tak terdengar dia menghibahkan hartanya. Kalaupun ada tak lain hanyalah pelengkap ceremonial meningkatkan corporate image , yang nilai sumbangannya secuil dari hartanya. Juga ada pengusaha kaya raya yang usahanya melilit disemua sektor, termasuk pertambangan, property, perbankan, dll, Namun yang dapat dia lakukan tak lain membuat terpuruk ribuan penduduk yang kehilangan tempat tinggal akibat ulah bisnis pemboran minyak yang salah urus. Ada ganti rugi tapi tak ada ganti untung. Apalagi untuk berbagi atas hartanya. Justru hartanya digunakan untuk menjadi pemain politik dengan menghibahkan dana triliunan rupiah sebagai dana abadi partai. Di negara muslim tempat rumah suci kiblat umat islam sedunia, tak terdengar para bangsawan Arab yang kaya raya akibat berkah minyak dan visa haji , menyumbangkan hartanya lebih dari separuh hartanya seperti pengusaha non muslim.

Begitu banyak contoh orang yang bukan muslim yang menjadi pejuang kemanusiaan bagi simiskin. Ada mereka yang memang tak berharta namun mewakafkan umur dna keahliannya bagi simiskin. Ada mereka yang memang diberkati harta berlebih karena profesi atau bisnisnya namun tidak hidup bermewah dengan itu kecuali merasa puas ketika mereka melepas hartanya bagi program kemanusiaan. Bagi saya, mereka semua itu adalah cobaan bagi orang muslim. Suatu pembelajaran yang dibentangkan Allah dihadapan kita bagaimana ruh kasih sayang Allah itu tampil kepermukaan, walau lewat orang yang tidak bersahadat. Jangan sampai keberadaan mereka membuat kita mencibir dengan berkata untuk apa pengorbanan mereka , toh mereka tidak beriman kepada Allah maka amalan itu akan terbang dibawa angin. Tapi pada waktu bersamaan kita yang mengaku bersahadat lupa akan makna sahadat. Lupa makna cinta dan kasih sayang untuk berkorban dijalan Allah.

Lupa bahwa Allah itu dekat dengan orang miskin dan yang dizolimi. Tidak kita temukan Allah di Mesjid mewah, TIdak kita temukan Allah di acara Zikir akbar. Allah ada bersama mereka yang miskin dan terlupakan oleh orang orang yang berada. Kalau ingin mencari Allah maka temuilah fakir miskin, anak yatim dan piatu, orang yang terjerat hutang, orang terzolimi. Bantulah mereka karena kita yang berlebih telah ditakdirkan menjadi wakil Allah untuk menegakkan keadilan bagi mereka yang duafa harta maupun ilmu. Setidaknya mulailah berpikir dan besikap seperti ungkapan Samanta " Untuk membahagiakan orang lain"

No comments:

Magic Word

  Waktu saya pergi merantau. Setiap bulan pasti surat ibu saya datang. Walau saya tidak kuliah. Pekerjaan tidak tetap. Tetapi tidak pernah i...