Saturday, April 04, 2009

Prabowo ?

Tak salah bila kita melihat kebelakang. Optimistis pernah ada dulu. Ketika era Soekarno, seorang sosialis berdiri tegak untuk lahirnya The new Emerging force. Dunia terkejut, Indonesia berteriak garang. Kekuatan Indonesia menyelimuti seluruh dunia. Setelah itu berbagai proyek berkelas nasional maupun internasional dibangun. Tapi tak ada sesungguhnya pembangunan karena semua itu dibayar melalui hutang luar negeri. Era Soeharto , era pembangunan untuk menuju lepas landas. Semua kekuatan politik dibungkam dan dipaksa untuk masuk dalam barisan sang jenderal. Projek bersala raksasa bertaburan diseluruh pelosok negeri namun lagi lagi semua itu dibayar dari hutang luar negeri. Tak ada sesungguhnya pembangunan kecuali melampiaskan syahwat penguasa un untuk dipuja.

2009 , pesimisme ada. Dimana gerangan harapan itu ? Sepuluh tahun lalu orang remai menangis haru didepan tv ketika mendengar Soeharto membacakan maklumat untuk mundur. Haru , karena sang dictator tua sudah lengser. Tentu ada cahaya terang menyelimuti negeri ini menuju hari esok yang lebih baik. Kita optimis. Ada kebebasan untuk sebuah kebersamaan dalam kesatuan. Melihat kebelakang adalah kebencian tersembunyi. Pancasila kita aminin namun tidak untuk diucapkan maupun dilaksanakan. Semua hal yang dulu dijadikan kekuatan oleh Soeharto adalah keterbelakangan yang tak perlu lagi diingat. Cukup sudah. Kini eranya reformasi. Maka demokrasi adalah keputusan yang benar.

Era reformasi mencatat dengan baik segala dosa masa lalu orde baru. Seminar dan tulisan seakan mengekalkan bahwa Orde Baru adalah order bau. Bau darah dan kekerasan. Kedepan adalah hari esok untuk meniru semua hal yang nampak baik dari Barat /AS. Para lulusan AS/Barat menjadi bintang panggung politik. Kata katanya didengar melebihi pituah sang kyai. Media massa mencatat semua dogma tentang semangat demokrasi karena laku dijual untuk orang ramai yang haus akan kebebasan. Tak jelas lagi apakah berita itu benar atau salah. Yang penting kebebasan adalah milik semua anak bangsa. Semua orang menjadi kolumnis dan analisis politik. Maka kebebasan menjadi penuh sang wasangka dan bertaburah disemua media massa.

Ditengah keasikan mencatat hal hal tentang Orde Bau dan The New Emerging Force, di Era Reformasi kita tersentak ketika pemujaan tentang demokrasi , tentang kebebasan, pada akhinya adalah kebebasan modal dan pasar,. Lambat namun pasti berbagai regulasi dilahir disenayan, dan semua mengarah kepada kebebasan , namun utamanya adalah kebebasan modal dan pasar. Ini resep ampuh untuk menarik dana investor asing masuk uintuk mengurasi harta negeri dan menjadi anak bangsa sebagai kuli dinegeri sendiri. Tak penting siapa memiliki apa , yang penting rakyat dapat bekerja sebagai kuli dan negara mendulang pajak dari itu semua. Maka neoliberal adalah bagian tak terpisahkan dari jargon era reformasi.

Kehebatan Era Reformasi adalah kehebatan media massa. Elite tidak perlu lagi datang menemui petani atau buruh untuk bicara tentang pembangunan. Semua cukup media massa menyampaikannya. Para elite gemar menggunakan data statistic untuk mengukur setiap indek prestasi fiscal dan moneter. Tak jelas apakah data itu benar atau salah. Angkapun bertaburan diberbagai seminar untuk bicara tentang solusi dan prestasi. Tapi rakyat tak juga paham bila pada akhirnya harga semakin mahal , penghasilan menurun dipangkas inflasi, dan..akhirnya tak ada lagi yang murah , apalagi gratis. Layanan public dan perusahaan public milik negara telah berganti baju menjadi perusahaan berbaju wall street. Antara yang membuat aturan, pengawasi dan pelaksana terjalin konspirasi efektif. Maka reformasi juga adalah distribusi kekuasaan secara systematis untuk melahirkan korupsi secara systematis pula tapi ini sudah menjadi pilihan dan hutang luar negeri bertambah dua kali lipat dari jumlah hutang Orde Baru yang berkuasa 32 tahun

Kini orangpun tersentak. Pesimis terjadi dimana mana ketika ditahun 2008 dimusin Panas kebanggan tentang AS/Barat luluh lantak. Wallstreet terjerambab dengan segudang skandal keuangan terbesar sepanjang sejarah. Lembaga keuangan ber Rating tinggi gagal bayar CDS, CDO, CMO. Para elite politik Barat/AS mulai berkata “‘ini semua akibat kebebasan pasar dan modal” . Merekapun mengakui bahwa biang dari persoalan itu semua karena konsep neoliberal yang dipaksakan hingga akibatnya tak ada lagi yang mengawasi. Semua baru menyadari bahwa demokrasi bukan lagi berarti kebebasan tapi adalah kepemimpinan yang tegas untuk menjaga aturan. Maka sosialis mendapatkan angin untuk berkata “ Kami benar “

Di tahun 2009, ditengah pesimisme , orang dikejutkan oleh tampilnya jenderal baret merah mencalonkan diri sebagai president, putra dari seorang sosialis dan berkarir cemerlang dibawah bayang bayang Soeharo, dan akhirnya terlempar ke luar lingkar kekuasaan oleh kasus yang tak selesai. Dia adalah Prabowo Subianto. Dia tak ingin bicara tentang sosialis , juga tak ingin berbaiat dengan kapitalis. Dia hanya berkata tentang “gotong royong dan kekeluargaan “ untuk lahirnya Indonesia yang perkasa bagaikan garuda membelah angkasa. Mungkinkah ini sebuah awal optimisme ditengah pesimisme akibat masa lalu yang selalu salah memilih ?

No comments:

Magic Word

  Waktu saya pergi merantau. Setiap bulan pasti surat ibu saya datang. Walau saya tidak kuliah. Pekerjaan tidak tetap. Tetapi tidak pernah i...