Aling bertanya kepada saya, apa sih sebenarnya yang membuat ekonomi global menghadapi ketidak pastian? Ya dampak dari keadaan dunia ini bisa dirasakan oleh semua negara. Tidak ada satupun negara yang bisa mengclaim bahwa ia adalah negara super power dalam hal ekonomi. China yang hebat pun suffering. AS jangan tanya. Eropa juga sama. Korea, Jepang dan Taiwan juga tidak lagi disebut dengan macan Asia. Dunia memang berubah. Namun perubahan tidak seperti ramalan revolusi industry tentang kemakmuran.
Problem utama dunia dalam sekian decade ke belakang dan kini maupun masa depan ada pada AS. Berawal ketika AS mengarahkan kapal besar ekonominya dari industry mass production ke high tech, dari comparative advantage berbasis sumber daya ke competitive advantage berbasis sains. Kemakmuran nasional diciptakan, bukan diwariskan. Kemakmuran tidak tumbuh dari kekayaan alam suatu negara, sumber daya tenaga kerjanya, suku bunganya, atau nilai mata uangnya, seperti yang ditegaskan oleh ilmu ekonomi klasik, demikian kata mereka.
Pada waktu bersamaan China focus kepada comparative advantage. China dengan cepat mengubah UU PMA dan memberikan insentif pajak dan upah murah serta kepastian hukum. China mengambil peluang yang mungkin mereka bisa kerjakan dari kekosongan produksi yang ditinggalkan AS. By process terjadi relokasi industry mass production dari AS ke China. China diuntungkan dari adanya produksi substitusi impor dan penyerapan angkata kerja luas. Tapi bukan itu saja. China belajar dari AS dalam segala hal terutama mengola industri secara modern.
Pada awalnya AS tidak merasa tersaingi dengan kemajuan industry dan manufaktur China. Malah AS diuntungkan oleh barang murah buatan China. Itu membuat efisiensi belanja domestic AS. Namun lambat laun, proses itu bukan hanya membuat neraca perdagangan AS defisit terhadap China, tetapi juga mempercepat gelombang relokasi bisnis dari AS ke China. Ya motive kapitalisme. Selalu mencari tempat yang murah untuk berproduksi. Akibatnya terjadi glombang PHK di AS. Sementara Indusri high tech yang menjadi focus AS juga tidak sepenuh nya bisa menyerap angkatan kerja kelas menengah AS yang kena PHK.
Sementara kelebihan modal AS mengalir ke sector monater yang bubble. Ini semakin mempercepat keruntuhan mindset dari masyarakat innovative ke konsumsi lewat berhutang. Puncaknya terjadi crisis tahun 2008. Segala macam cara dilakukan AS untuk recovery lewat kebijakan moneter dan fiskal. Hasilnya sampai kini tidak membuat AS semakin baik. Malah menimbulkan ketidak pastian global. Maklum US Currency sudah menjadi mata uang global. Setiap up dan down mata uang dollar berdampak langsung dengan daya tahan moneter dan fiscal setiap negara.
Imbalance economy tercipta sudah. Tidak ada satupun negara yang secure. Apalagi dengan tampilnya Donald Trumps sebagai presiden terpilih tahun 2024. Membuat kebijakan pragmatis semakin menjadi jadi, terutama dengan inward looking policy yang cenderung proteksionisme. Dampaknya adalah inefisiensi belanja domestic terutama barang impor. Inflasi akan tinggi. Tingkat bunga tidak mudah turun. Tentu akan sulit bagi negara lain seperti Eropa dan Asia turunkan suku bunganya. Ekspansi sector real akan melemah.
Kebijakan relaksasi ekonomi Trumps lewat pemotongan tarif pajak akan meningkatkan defisit APBN AS. Otomatis surat utang AS akan bertambah. Yield T-Bill akan naik. Mata uang AS akan menguat. Modal akan mengalir ke AS. Ini berdampak luarbiasa terhadap likuiditas global. Kalau likuiditas berkurang. Tentu kebijakan belanja negara yang ekspansif semakin mempersempit ruang fiskal. Utang semakin mahal suku bunganya. Ekspansi dunia usaha akan melemah, yang tercermin dengan melemah nya indek saham gabungan dan mata uang. Masa depan yang uncertainly.
Demikian gambaran sederhana ekonomi dunia sekarang, kata saya kepada Aling. Lantas bagaimana kebijakan Indonesia menghadapi ketidak pastian. Tanya Aling. Saya terdiam. Wajah saya sedih untuk bicara tentang Indonesia. Karena kalau bicara solusi tentu harus mau jujur membuka borok negeri sendiri. Ya saya harus beri tahu dulu situasi dan kondisi makro ekonomi Indonesia. Baiklah. Saya coba terangkan secara sederhana begitu juga dengan solusinya.
Kita menghadapi defisit APBN, yang dibiayai dari utang. Sementara struktur utang yang ada tidak digunakan untuk ekspansi yang bisa meningkatkan lapangan kerja. Tetapi digunakan untuk bayar cicilan dan bunga. Kalau harus berhutang lagi untuk ekspansi, itu akan semakin mempersempit ruang fiscal. IDR akan terus melemah, SBN akan semakin tinggi yield nya. Kalau kita tidak rem belanja dan tidak rem hutang. Bukan tidak mungkin IDR dan SBN bisa jadi sampah. Kita jadi negara gagal.
Walau situasi tidak baik baik saja, bukan berarti tidak ada peluang. Kalau kita smart membaca situasi dunia, Indonesia bisa survival dan bahkan tumbuh menjadi negara besar. Apa peluang itu? Memanfaatkan relokasi industry dan manufaktur dari China ke Indonesia. China perlu mensiasati kebijakan proteksi AS dengan memindahkan pusat produksi nya ke negara yang tarif nya rendah masuk ke AS.
Walau perlakuan tarif AS kepada Vietnam lebih rendah daripapa Indonesia khususnya produk industry dan manufaktur, namun Indonesia bisa menawarkan relokasi industry downstream Pertanian dan Minerba kepada China. SDA kita melimpah. Dan Indonesia termasuk negara dalam jaring BRI ( bell road initiative ) dimana China sudah berinvestasi lebih dari USD 40 miliar selama 10 tahun belakangan. Dengan adanya FDI dari China, itu akan sangat membantu mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah defisit fiscal.
Namun bagaimanapun untuk bisa memanfaatkan relokasi industry dari China, diperlukan aturan hukum yang tegak, indek korupsi yang reliable untuk perbaikan Easy doing of business. Bisnis rente yang menjadi sumber dilanggarnya standar ESG harus dipangkas. Kepemimpinan yang kuat dalam memitigasi resiko politik. Mengapa? Yang masuk ke Indonesia itu tidak bawa uang dari dalam negeri China. Tapi dari investor institusi. Hanya itu solusinya. Karena dari segi moneter kita tidak ada ruang lagi untuk recovery. So, sudahi omong kosong. It was a race against time to complete the project. Pahamkan Ling…
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.